Jumat, 08 Juni 2012

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

SEKOLAH :
MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia
KELAS : X
SEMESTER : 1

A. STANDAR KOMPETENSI :
Mendengarkan : 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung

B. KOMPETENSI DASAR :
1.1 Menanggapi siaran atau informasi dari  media  elektronik (berita dan nonberita) 

C. MATERI PEMBELAJARAN :
Siaran (langsung)  dari radio/ televisi,  teks yang dibacakan, atau rekaman berita/ nonberita
• Pokok-pokok isi berita
• penangapan isi berita


D. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI :
No Indikator Pencapaian Kompetensi Nilai Budaya dan Karakter BangsaKewirausahaan/ Ekonomi Kreatif
1Menuliskan isi siaran radio/ televisi da¬lam beberapa kalimat dengan urutan yang runtut dan mudah dipahami. Bersahabat/ komunikatif
Tanggung jawab
Kepemimpinan






2 Menyampaikan secara lisan isi berita yang telah ditulis  secara runtut dan jelas

3Mengajukan pertanyaan/ tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat)




E. TUJUAN PEMBELAJARAN* :
Siswa dapat:
 • Menuliskan isi siaran radio/ televisi dengan topik tertentu da¬lam beberapa kalimat dengan urutan   yang runtut dan mudah dipahami.
• Menyampaikan secara lisan isi berita yang telah ditulis secara runtut dan jelas.
• Mengajukan pertanyaan/ tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat)
• Menanggapi berita dengan menggunakan alasan dan bahasa yang rasional dan logis.

 F. METODE PEMBELAJARAN :
? Penugasan
? Diskusi
? Tanya Jawab
? Unjuk kerja
? Ceramah
? Demonstrasi

G. STRATEGI PEMBELAJARAN
Tatap Muka
Terstruktur

Mandiri
Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung.
Menuliskan isi siaran radio/ televisi dengan topik tertentu da¬lam beberapa kalimat dengan urutan yang runtut dan mudah dipahami.
Mengajukan pertanyaan/ tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat) 
Mencari Siaran (langsung)  dari radio/ televisi,  teks yang dibacakan, atau rekaman berita/ nonberita
Menanggapi berita dengan menggunakan alasan dan bahasa yang rasional dan logis.  
  Siswa berlatih mendiskripsikan Siaran (langsung)  dari radio/ televisi,  teks yang dibacakan, atau rekaman berita/ nonberita
• Siswa Menuliskan isi berita .











H. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN :
No.
Kegiatan Belajar

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa
1.kegiatan awal

? Guru menjelaskan Tujuan Pembelajaran hari ini.
? Membentuk kelompok diskusi
Bersahabat/ komunikatif
2.2. Kegiatan Inti :
? Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
? Mendengarkan berita tentang bencana alam ( Misal: semburan lumpur panas Lampindo-Porong-Sidoharjo, pascagempa dan tsunami Aceh)
? Menyampaikan secara lisan isi berita secara bergantian
? Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi,
? Menuliskan isi berita dalam beberapa kalimat
? Mendiskusikan isi berita
? Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
? Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui
? Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui.
Tanggung jawab
3.
3. Kegiatan Akhir
? Refleksi
? Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.  
Bersahabat/ komunikatif

I. ALOKASI WAKTU :
 4 x 40 menit

 J. SUMBER BELAJAR/ALAT/BAHAN :
 • Radio/ tape
 • Televisi
 • CD salinan berita atau kaset rekaman

 K. PENILAIAN :
 Jenis Tagihan:
 ? Tugas individu
? Ulangan

Bentuk Instrumen:
 ? Uraian bebas
 ? Pilihan ganda
? Jawaban singkat

Mengetahui,       2011
Kepala Sekolah                                                Guru Mata Pelajaran



NIP.                                                                    NIP.
BAB II
KAJIAN TEORI

3.1    Pengertian Sastra

       Banyak ahli yang mendefenisikan pengertian sastra berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Namun inti pendefinisiannya tidak keluar dari konsep sastra itu sendiri, sebab pada hakekatnya, segala bentuk karya sastra baik yang berbentuk lisan maupun tulisan diciptakan yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup manusia.
       Istilah sastra berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu sas dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau intruksi, dan tra biasanya berarti menunjukkan “alat” atau “sarana”. Dengan demikian sastra dapat berarti “alat untuk mengajar”, “buku petunjuk”, “buku intruksi atau pengajaran”. Awalan su berarti “baik” atau “indah”. Namun susastra tidak terdapat dalam bahasa Sansekerta maupun bahasa jawa Kuno, (Pradotokusumo, 2005: 7).

3.2    Konsep Sastra Lisan

       Hutomo (1983:2) menjelaskan bahwa sastra lisan atau kesusastraan lisan merupakan kesusastraan yang mencakup ekspresi warga atau kebudayaan yang disebutkan dan diturun-temurunkan secara lisan dari mulut ke mulut. Hal ini menandakan bahwa sastra lisan merupakan salah satu warisan budaya yang selalu diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, yang mana bahasa dijadikan sebagai media utama dalam menyampaikannya.

       Akibat adanya pewarisan sastra lisan secara turun temurun, maka sastra lisan telah berwujud menjadi sebuah tradisi yang selalu berkembang dalam masyarakat. Proses perkembangannya dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa melelui penuturan seorang ibu kepada anaknya, seorang guru kepada muridnya, maupun antar sesama anggota masyrakat.

       Pewarisan sastra lisan yang selalu terjadi dalam suatu masyarakat,  mempunyai peranan penting tersendiri, yaitu dengan adanya nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup dalam suatu kelompok masyarakat.
       Dengan adanya perkembangan teknologi dari masa ke masa, serta upaya untuk melestarikan sastra lisan, maka kini sastra lisan tidak hanya berbentuk lisan, tetapi dapat berupa bentuk tulisan yang biasa diwujudkan dalam buku cerita anak dan bahan pembelajaran.

3.3    Cerita Rakyat

       Cerita rakyat adalah suatu golongan cerita yang hidup dan berkembang secara turun-temurun daru suatu generasi ke generasi selanjutnya. Dikatakan sebagai cerita rakyat karena cerita itu hidup dan berkembang di kalangan  masyarakat dan semua lapisan masyarakat mengenal ceritanya (Djamaris, 1993: 15).
       Dengan hadirnya cerita rakyat sebagai sastra tradisional pada setiap suku, maka kita dapat mengetahui mengenai sendi-sendi kehidupan secara lebih mendalam terhadap suatu kelompok masyarakat. Dalam kedudukannya di tengah masyarakat, cerita rakyat dapat bermanfaat sebagai sarana untuk mengetahui asal-usul nenek moyang, sebagai jasa atau teladan kehidupan para pendahulu kita, sebagai hubungan kekerabatan, sebagai sarana pengetahuan asal mula tempat, adat-istiadat dan sejarah benda pusaka.

3.4    Jenis-Jenis Cerita Rakyat

      Dalam kedudukannya sebagai sastra tradisional, cerita rakyat dibagi atas tiga jenis, yaitu sebagai berikut :

3.4.1    Dongeng

       Dongeng adalah cerita sederhana yang tidak benar-benar terjadi. Dalam bahasa Inggris dongeng disebut folklore yang berarti sebagai cerita fantasi yang kejadian-kejadiannya tidak benar terjadi. Sebagai folklor,  dongeng juga merupakan suatu cerita yang hidup di kalangan masyarakat dan disajikan dengan cara bertutur lisan oleh tukang pencerita. Dalam kedudukannya di masyarakat, dongeng berfungsi sebagai hiburan, pengajaran moral dan nasehat bagi kehidupan dan sumber pengetahuan. Adapun tokoh-tokoh dalam dongeng, biasanya berupa dewa dan dewi, peri penyihir, binatang, kastil, benda-benda ajaib dan lain-lain.

3.4.2    Legenda

       Legenda merupakan cerita tradisional, sebab keberadaannya sudah dimiliki sejak dulu. Adapun proses pewarisannya biasa diterima dari orang tua ataupun keluarganya. Menurut Rusyana (La Ode Taalami, 2008 :20), legenda adalah prosa rakyat yang memiliki ciri-ciri mirip dengan mite, yakni pernah dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Tokoh dalam leggenda adalah manusia meskipun adakalanya mempuunyai sifat luar biasa dan sering dibantu oleh mahluk gaib.

3.4.3    Mitos/Mite

        Dalam  bahasa Indonesia, istilah mitos atau mite “mythos” (Yunani) yang berarti cerita dewata, dongeng terjadinya bumi dengan segala isinya atau diambil dari bahasa Inggris “myth” : story, handed down fromold times, about the early beliefes of a race (cerita yang meriwayatkan zaman purbakala yang dipercayai suatu bangsa hingga kini).
     Mitos adalah cerita prosa yang ditokohi para dewa atau setengah dewa yang terjadi di dunia lain (kayangan0 dan dianggap benar-benar terjadi oleh penganutnya. Pada umumnya mitos menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk tofografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya.

2.5 Konsep Nilai

       Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna
bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna
bagi kehidupan manusia.
       Menilai berarti menimbang, menghubungkan antar sesuatu untuk selanjutnya mengambil keputusan. Keputusan nilai itu dapat dikatakan berguna atau tidak berguna, baik atau tidak biak, religius atau tidak religius. Hal itu dihubungkan dengan unsu-unsur yang melekat pada diri manusia yaitu jasmani, cipta, rasa dan kepercayaan.

3.5    Konsep Moral

        Pada hakikatnya nilai-nilai moral menyangkut tentang nilai baik dan buruk, positif dan negatif, pantas dan tidak pantas, serta sejenisnya adalah sesuatu yang bersumber dari ajaran agama. Prinsip ajaran agama adalah untuk mengatur kehidupan manusia. Jenis ajaran moral dapat mencakup masalah yang boleh dikatakan tidak terbatas. Ia dapat mencakup seluruh persoalan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Oleh karena itu, moral merupakan nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
       Secara garis besar persoalan kehidupan manusia dapat dibedakan ke dalam beberapa persoalan, yaitu persoalan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan antar manusia termasuuk hubungannya dengan lingkungan alam, serta hubungan manusia dengan Tuhannya, (Nurgiyantoro, 2007:323).
       Karya sastra mengandung penerapan moral dalam tingkah laku dan sikap para tokoh. Sementara pembaca diharapkan dapat menangkap pesan-pesan moral yang terkandung dalam karya sastra. Pesan moral yang ditawarkan selalu berhubungan dengan sifat luhr manusia dalam memperjuangkan hak dan martabat manusia.

3.6    Sastra Tolaki

       Pengertian kata “seni” jika diartikan dalam bahasa Tolaki disebut “alusu”. Istilah sastra jika diartikan dalam bahasa Tolaki bepadanan dengan “bitara ndolea”. Sastra bila ditinjau dari bentuknya, dibagi menjadi dua bagian, yaitu prosa dan puisi. Bentuk prosa dalam sastra tolaki adalah sebagai berikut : (1) o nango (dongeng), (2) tula-tula (kisah) atau cerita yang benar-benar terjadi, (3) kukua (silsilah), dan (4) pe’oliwia (pesan leluhur). Adapun karya sastra dalam bentuk puisi yaitu : (a) taenago (syair yang dilagukan), (b) kiniho atau lolama (pantun), (c) o doa (mantra), (d) singguru (teka-teki), dan (e) bitara sara (kata-kata persembahan).


BAB III
METODE DAN JENIS PENELITIAN

3.1 Metode dan Jenis Penelitian

       Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat tolaki yaitu Pasaeno. Dikatakan deskriptif kualitatif karena dalam penjelasan konsep-konsepnya yang berkaitan antara satu dengan yang lain digunakan kata-kata atau kalimat dan menggunakan pemahaman yang mendalam serta tidak menggunakan data-data statistik.
       Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Dikatakan penelitian kepustakaan karena penelitian ini didukung oleh referensi baik berupa teks cerita rakyat maupun sumber buku penunjang lainnya yang mencakup masalah dalam penelitian ini.

3.2 Data dan Sumber Data

        Data dalam penelitian ini adalah data tertulis yang berupa teks cerita rakyat Pasaeno. Adapun sumber data penelitian ini adalah buku Kebudayaan Tolaki karya Abdurrauf Tarimana yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta 1993 dengan jumlah 423 halaman.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
       Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca-catat, yaitu membaca kritis cerita rakyat yang akan diteliti, kemudian mencatat data-data atau informasi yang sesuai dengan penelitian ini.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

SMA Negeri 1 Kontunaga merupakan salah satu sekolah yang berada di Kecamatan Kontunaga Kabupaten Muna yang berbatasan dengan perkebunan dan rumah-rumah masyarakat. SMA Negeri 1 Kontunaga berdiri di atas area seluas 5250 m2, dengan status tanah sepenuhnya milik negara.
SMA Negeri 1 Kontunaga didirikan pada tahun 2004 dan telah mengalami 4 kali pergantian kepemimpinan yang dapat ditunjukan sebagai berikut :

            SMA Negeri 1 Kontunaga telah memiliki sarana dan prasarana fisik yang relatif cukup memadai yang dapat menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Selain memiliki sarana fisik SMA Negeri 1 Kontunaga juga memiliki sarana olahraga yang dimanfaatkan oleh siswa dan guru. Sarana dan prasarana fisik yang dimiliki oleh SMA Negeri 1 Kontunaga yang dimaksud meliputi: ruang kepala sekolah, ruang wakil kepala sekolah, ruang dewan guru, ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang tata usaha, ruang BP dan Aula (ruang serba guna).
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diperoleh suatu gambaran mengenai sarana dan prasarana pendidikan SMA Negeri 1 Kontunaga tahun ajaran 2010/2011, yang mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMA Negeri 1 Kontunaga dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini :
Tabel 1 :  Keadaan sarana dan prasarana SMA Negeri 1 Kontunaga tahun ajaran 2010/2011
No
Jenis Sarana dan Prasarana
Jumlah
Kondisi
1
Ruang kepala sekolah
1
Memadai
2.
Ruang wakil kepala sekolah
1
Memadai
3.
Ruang belajar/kelas
9
Memadai
4.
Ruang dewan guru
1
Memadai
5.
Ruang tata usaha
1
Memadai
6.
Ruang laboratorium IPA
2
Memadai
7.
Ruang perpustakaan
1
Memadai
8.
Ruang BP/BK
1
Memadai
9.
Gedung aula
1
Memadai
10.
Kantin
1
Memadai
11.
Tempat parker
1
Memadai
12.
WC
6
Memadai
Jumlah
25

Sumber: dokumen SMA Negeri 1 Kontunaga
Berdasarkan tabel 1 di atas menunjukkan bahwa seluruh kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMA Negeri 1 Kontunaga adalah memadai. Keadaan sarana dan prasarana ini akan terus mengalami kemajuan dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Namun meskipun SMA Negeri 1 Kontunaga telah memiliki sarana dan prasarana fisik yang sudah memadai, namun hal ini harus didukung dan diimbangi dengan faktor pendukung lainnya seperti tenaga pengajar (Guru) yang berkualitas dan profesional, tata tertib serta dukungan masyarakat yang merupakan salah satu penunjang kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.

            Salah satu faktor penunjang kelancaran proses belajar mengajar di sekolah adalah tersedianya tenaga-tenaga pengajar yang berkualitas dan profesional. Guru adalah sebagai motivator yang beraktivitas langsung dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Seorang guru mempunyai tugas dan tangung jawab dalam memperlancar proses belajar mengajar didalam kelasa. Karena fungsi dan peranan guru sebagai motivator dalam proses belajar mengajar itulah sehingga guru dijadikan tolak ukur keberhasilan suatu lembaga pendidikan khususnya di sekolah.
          Selain guru, faktor lain yang menunjang kegiatan proses belajar mengajar adalah pegawai administrasi sekolah (Tata usaha). Proses administrasi tersebut  adalah pegawai sekolah yang tidak bertugas dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi bertugas dalam pembuatan dan penyimpanan laporan secara lengkap, sistematis dan tertulis yang dapat memberikan gambaran keseluruhan tentang segala sesuatu dilingkungan sekolah tertentu.
            Ditinjau dari aspek jumlah guru yang ada SMA Negeri 1 Kontunaga, maka kondisi non fisikdi SMA Negeri 1 Kontunaga belum memadai. Jumlah guru tetap yang ada SMA Negeri 1 Kontunaga Tahun Ajaran 2011/2012 sebanyak 41 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Keadaan Guru SMA Negeri 1 Kontunaga Tahun Ajaran 2010/2011
No.
Mata Pelajaran
Jenis Kelamin
Jml
Laki-laki
Perempuan
1.
Pendidikan agama islam
1
1
2
2.
PKN
2
-
2
3.
Ekonomi
2
1
2
4.
Sejarah
1
1
2
5.
Sosiologi
1
1
2
6.
Geografi
1
1
1
7.
Bahasa dan Sastra Indonesia
2
1
3
8.
Bahasa inggris
2
1
3
9.
Matematika
2
1
3
10.
Fisika
2
1
3
11.
Kimia
2
1
3
12.
Biologi
2
1
3
13.
Penjaskes
2
1
3
14.
TIK
1
-
1
15.
Keterampilan
-
1
1
16.
Senibudaya
-
1
1
17.
Kelautan
1
-
1
18.
BK/BP
1
1
2
Jumlah
25
15
40
Sumber: dokumen SMA Negeri 1 Kontunaga
Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan bahwa jumlah tenaga pengajar (guru) di SMA Negeri 1 Kontunaga adalah sebanyak 40 orang (terdiri dari 15 perempuan dan 25 laki-laki). Dari jumlah tersebut yang merupakan guru tetap sebanyak 34 dan guru honor sebanyak 6 orang.
Selain memiliki sejumlah tenaga pengajar (guru) seperti ditunjukkan pada tabel 2 di atas, untuk menjamin kelancaran administrasi sekolah, SMA Negeri 1 Kontunaga juga memiliki sejumlah tenaga administrasi. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan tenaga administrasi di SMA Negeri 1 Kontunaga dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini:
Tabel 3:  Keadaan tenaga Administrasi/Tata Usaha SMA Negeri 1 Kontunaga Tahun ajaran 2010/2011
No.
Nama
Jenis Kelamin
Jabatan
1.
2.
3.
4.
La Ode Aluri
La Rafini
Wa Isra
Rahmat Hidayat
L
L
P
L
Ketua Tata usaha
Tata usaha
Tata usaha
Tata usaha

Jumlah
4

Sumber: Dokumen SMA Negeri 1 Kontunaga
            Berdasarkan data pada tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah tenaga administrasi SMA Negeri 1 Kontunaga berjumlah 4 orang yaitu terdiri dari 1 orang ketua tata usaha, 3 orang staf tata usaha. Dimana dengan jumlah ini sangat membantu dalam kelancaran proses belajar mengajaran terutama dalam pelayanan segala urusan administrasi di SMA Negeri 1 Kontunaga.
Jumlah siswa yanng dimiliki SMA Negeri 1 Kontunaga pada tahun ajaran 2010/2011 adalah sebanyak 502 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4: Keadaan Siswa SMA Negeri 1 Kontunaga Tahun Ajaran 2010/2011
No.
Kelas
Jumlah Siswa (orang)
1.
X
197
2.
XI
171
3.
XII
134
Jumlah
502
Sumber: Dokumen SMA Negeri 1 Kontunaga
Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah siswa SMA Negeri 1 Kontunaga adalah sebanyak 502 orang. Dari jumlah tersebut tersebar pada kelas X berjumlah 197 terdiri dari kelas X-1 sebanyak 30 orang, kelas X-2 sebanyak 27 orang, Kelas X-3 sebanyak 27 orang, kelas X-4 sebanyak 27 orang, kelas X-5 sebanyak 29 orang, kelas X-6 sebanyak 29 orang, dan X-7 sebanyak 28 orang. Pada kelas XI berjumlah 171 terdiri dari XI IPA-1 sebanyak 29 orang, kelas XI IPA-2 sebanyak 30 orang, kelas XI IPA-3 sebanyak 28 orang, kelas XI IPS-1 sebanyak 28 orang, kelas XI IPS-2 sebanyak 28 orang, dan kelas XI IPS-3 sebanyak 29 orang. Sedangkan pada kelas XII berjumlah 134 terdiri dari kelas XII IPA-1 sebanyak 30 orang, kelas XII IPA-2 sebanyak 32 orang, kelas XII IPA-3 sebanyak 28 orang, kelas XII IPS-1 sebanyak 22 orang, dan kelas XII IPS-2 sebanyak 22 orang.

           Proses belajar mengajar pada SMA Negeri 1 Kontunaga dimulai pukul 07.00 dan berakhir paada pukul 13.15 Wita. Dalam kegiatan belajar mengajar tersebut materi yang diajarkan oleh guru di kelas berpedoman pada GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran) yang berlaku, sehingga dengan demikian guru tinggal mengembangkan materi tersebut dengan menggunakan literatur atau bahan ajar yang sesuai dengan ketentuan GBPP tersebut.
            Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk menguasai bahan ajar yang diajarkan di kelas dengan menggunakan berbagai metode pengajaran yang baik. Hal ini bertujuan untuk mempermudah siswa dalam memahami konsep materi bahan ajar yang diajarkan tersebut, sehingga dengan demikian akan tercipta suasana belajar mengajar yang kondusif pada akhirnya bermuara pada pencapaian tujuan pendidikan secara umum yaitu menciptakan peserta didik yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan menguasai teknologi.

Deskripsi data hasil penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai keadaan tiap-tiap variabel penelitian yakni Faktor lingkungan dan hasil belajar siswa. Untuk lebih jelasnya mengenai faktor lingkungan dan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada 34 responden (siswa) menunjukan bahwa faktor lingkungan yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Kontunaga khususnya pada mata pelajaran PKn terdiri dari 3 faktor yaitu (a) faktor lingkungan keluarga, (b) faktor lingkungan sekolah, dan (c) faktor lingkungan masyarakat. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 5. Faktor lingkungan yang mempengarugi prestasi belajar siswa
Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Lingkungan Keluarga



a
Perhatian orang tua



1)
Memperhatikan dan menanyakan hasil belajar anak disekolah
16
47.1

2)
Memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak dirumah
10
29.4


3)
Melengkapi buku pelajaran khususnya buku PKn
8
23.5

Jumlah
34
100.0

b
Suasana Rumah




1)
Suasana rumah yang sejuk dan nyaman
19
55.9


2)
Suasana rumah yang jauh dari keramaian
8
23.5


3)
Suasana rumah yang harmonis
7
20.6

Jumlah
34
100.0

c
Kondisi ekonomi keluarga



1)
Mendapatkan buku pekat dan LKS PKn
23
67.6

2)
Mendapatkan peralatan belajar yang lengkap
3
8.8


3)
Memiliki kamar belajar yang memadai
8
23.5

Jumlah
34
100.0
2
Lingkungan Sekolah



a
Metode mengajar



1)
metode mengajar guru PKn yang baik
13
38.2

2)
guru memiliki persiapan dan menguasai materi pelajaran PKn yang
11
32.4

Diajarkan



3)
Guru menyajikan meteri pelajaran PKn dengan baik dan jelas
10
29.4

Jumlah
34
100.0

b
Kurikulum




1)
Bahan pelajaran PKn mudah diterima, dikuasai dan dikembangkan




oleh siswa
19
55.9


2)
Pengaturan waktu sekolah ditetapkan secara jelas dan tepat
7
20.6


3)
Pengaturan standar pelajaran secara jelas dan tepat sesuai kemampuan





Siswa
8
23.5

Jumlah
34
100.0

c
Relasi antara guru dan siswa



1)
Guru PKn memiliki hubungan yang baik dengan para siswa
9
26.5

2)
Guru PKn yang mengajar dikelas sangat menyenangkan
16
47.1

3)
Guru PKn sangat memahami kondisi para siswanya
9
26.5

Jumlah
34
100.0

d
Displin sekolah




1)
Guru PKn disiplin dalam mengajar dan melaksanakan tata tertip




Sekolah
30
88.2


2)
Para pegawai/staf disiplin dalam pekerjaana administrasi dan kebersihan




keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain
1
2.9


3)
Kepala sekolah disiplin dalam mengelola seluru guru, staf dan para siswa
2
5.9


4)
Guru BP disiplin dalam pelayanan kepada para siswa
1
2.9

Jumlah
34
100.0

e
Fasilitas sekolah



1)
Papan tulis yang digunakan guru mengajar cukup baik
2
5.9

2)
Guru PKn mengajar dengan menggunakan OHP
13
38.2

3)
Buku-buku diperpustakaan cukup memadai
19
55.9

Jumlah
34
100.0
3
Lingkungan masyarakat



a
Kegiatan siswa dalam masyarakat



1)
Mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan
9
26.5


2)
Menghindari berbagai acara/hiburan malam
25
73.5

Jumlah
34
100.0

b
Media massa



1)
Sering mendengar berita diradio
3
8.8

2)
Sering nonton berita di TV
10
29.4

3)
Sering membaca buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya



dengan pelajaran PKn di sekolah
21
61.8

Jumlah
34
100.0

c
Teman bergaul



1)
Bergaul dengan para remaja masjid
10
29.4

2)
Bergaul dengan teman-teman sekolah yang memiliki motivasi belajar
24
70.6

Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa faktor lingkungan belajar yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu (a) faktor lingkungan keluarga meliputi; perhatian orang tua, suasana rumah, dan sosial ekonomi keluarga; (b) faktor lingkungan sekolah meliputi; metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, disiplin sekolah, dan fasilitas sekolah; dan (c) faktor lingkungan masyarakat meliputi; kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, dan temn bergaul. Hal ini menunjukan bahwa faktor lingkungan yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Kontunaga pada mata pelajaran PKn terdiri dari tiga faktor yaitu faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan sekolah, dan faktor lingkungan masyarakat dimana apabila ketiga faktor lingkungan ini baik maka baik pula prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn, demikian sebaliknya apabila ketiga faktor lingkungan ini buruk maka buruk pula prestasi belajar siswa
Menurut para ahli psikologi bahwa lingkungan yang banyak memberikan sumbangan dan paling besar pengaruhnya terhadap proses belajar maupun perkembangan anak adalah lingkungan keluarga. Karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan primer yang kuat pengaruhnya kepada individu anak dibandingkan dengan lingkungan sekunder yang ikatannya agak longgar. Selain itu keluarga juga merupakan lingkungan pendidikan pertama prasekolah yang dikenal anak pertama kali dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Lingkungan Keluarga sebagai lingkungan belajar pertama sebelum lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) menunjukkan bahwa faktor lingkungan keluarga yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga kususnya pada mata pelajaran PKn meliputi; perhatian orang tua, suasana rumah, dan sosial ekonomi keluarga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.





Tabel 6. Lingkungan keluarga yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
Lingkungan Keluarga
Jumlah responden
Persentase (%)
a
Perhatian orang tua


1)
Memperhatikan dan menanyakan hasil belajar anak disekolah
16
47.1
2)
Memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak dirumah
10
29.4

3)
Melengkapi buku pelajaran khususnya buku PKn
8
23.5
Jumlah
34
100.0
b
Suasana Rumah



1)
Suasana rumah yang sejuk dan nyaman
19
55.9

2)
Suasana rumah yang jauh dari keramaian
8
23.5

3)
Suasana rumah yang harmonis
7
20.6
Jumlah
34
100.0
c
Kondisi ekonomi keluarga


1)
Mendapatkan buku pekat dan LKS PKn
23
67.6
2)
Mendapatkan peralatan belajar yang lengkap
3
8.8

3)
Memiliki kamar belajar yang memadai
8
23.5
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa faktor lingkungan keluarga yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu (a) perhatian orang tua meliputi; memperhatikan dan menanyakan hasil belajar anak di sekolah, memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak dirumah, dan melengkapi buku pelajaran anak khususnya buku pelajaran PKn; (b) suasana rumah meliputi; suasana rumah yang sejuk dan nyaman untuk belajar, suasana rumah yang jauh dari keramaian, dan suasana rumah yang harmonis; dan (c) kondisi ekonomi keluarga meliputi mendapatkan buku paket dan LKS PKn, mendapatkan peralatan belajar yang lengkap, dan memiliki kamar belajar yang memadai. Dengan demikian maka apabila faktor lingkungan ini baik maka prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn akan baik pula, sebaliknya apabila faktor lingkungan ini buruk maka prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn akan buruk pula.
Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang perhatian orang tua dalam menunjang prestasi belajar siswa kususnya pada mata pelajaran PKn dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 7. Perhatian orang tua yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
No
Perhatian Orang Tua
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Memperhatikan dan menanyakan hasil belajar anak disekolah
16
47.1
2
Memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak dirumah
10
29.4
 3
Melengkapi buku pelajaran khususnya buku PKn
8
23.5
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa perhatian orang tua yang menunjang prestasi belajar siswa yaitu sebanyak 16 responden atau (47,1%) mengaku bahwa orang tua memperhatikan dan menanyakan hasil belajar anak di sekolah, sebanyak 10 responden atau (29,4%) mengaku bahwa orang tua memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak dirumah, dan sebanyak 8 responden atau (23,5%) mengaku bahwa orang tua melengkapi buku pelajaran anak khususnya buku pelajaran PKn. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk perhatian orang tua dalam mendukung prestasi belajar anak khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu dengan memperhatikan dan menanyakan hasil belajar anak di sekolah, memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak dirumah, dan melengkapi buku pelajaran anak khususnya buku pelajaran PKn.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari orang tua siswa mengemukakan bahwa:
Cara orang tua dalam memperhatikan anak dalam kegiatan belajar baik dirumah maupun disekolah besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak dimana orang tua yang selalu memperhatikan dan mengontrol kegiatan belajar anak dengan baik maka akan sangat mendukung prestasi belajar anak lebih baik, sedangkan orang tua yang tidak memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak maka akan mendukung prestasi anak lebih buruh (La Muna, A.Ma: wawancara tangga 20 Januari 2012)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk perhatian orang tua dalam mendukung prestasi belajar anak khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu dengan memperhatikan dan menanyakan hasil belajar anak di sekolah, memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak dirumah, dan melengkapi buku pelajaran anak khususnya buku pelajaran PKn. Cara orang tua dalam memperhatikan anak dalam kegiatan belajar baik dirumah maupun disekolah besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak dimana orang tua yang selalu memperhatikan dan mengontrol kegiatan belajar anak dengan baik maka akan sangat mendukung prestasi belajar anak lebih baik, sedangkan orang tua yang tidak memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak maka akan mendukung prestasi anak lebih buruh

Suasana rumah dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian-kajadian yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak berada dan belajar. Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang suasana rumah yang menunjang prestasi belajar siswa kususnya pada mata pelajaran PKn dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 8. Suasana rumah yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
No
Suasana Rumah
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Suasana rumah yang sejuk dan nyaman
19
55.9
2
Suasana rumah yang jauh dari keramaian
8
23.5
 3
Suasana rumah yang harmonis
7
20.6
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa suasana rumah yang menunjang prestasi belajar siswa yaitu sebanyak 19 responden atau (55,9%) mengaku bahwa suasana rumah yang sejuk dan nyaman saat belajar,  sebanyak 8 responden atau (23,5%) mengaku bahwa suasana rumah yang jauh dari keramaian, dan sebanyak 7 responden atau (23,5%) mengaku bahwa suasana rumah yang harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk suasana rumah yang mendukung prestasi belajar anak khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu suasana rumah yang nyaman dan sejuk saat belajar, suasana rumah yang jauh dari keramaian, dan suasana rumah yang harmonis.
Sesuai dengan hasil wawancara dengan informan dari orang tua siswa bahwa:
Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Selanjutnya agar anak dapat belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tenteram. Dengan demikian, maka kondisi suasana rumah juga mengambil andil dalam mendukung baik buruknya prestasi belajar anak khususnya pada mata pelajaran PKn (Wa Ode Murni: wawancara tangga 20 Januari 2012)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa suasana rumah yang mendukung prestasi belajar anak khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu suasana rumah yang nyaman dan sejuk saat belajar, suasana rumah yang jauh dari keramaian, dan suasana rumah yang harmonis. Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Selanjutnya agar anak dapat belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tenteram. Dengan demikian, maka kondisi suasana rumah juga mengambil andil dalam mendukung baik buruknya prestasi belajar anak khususnya pada mata pelajaran PKn

Kondisi ekonomi keluarga dimaksudkan sebagai situasi atau kondisi yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak tidak dapat memperoleh berbagai fasilitas dan peralatan untuk belajar. Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang kondisi ekonomi keluarga yang menunjang prestasi belajar siswa kususnya pada mata pelajaran PKn dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 9. Kondisi ekonomi keluarga yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
No
Kondisi ekonomi keluarga
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Mendapatkan buku pekat dan LKS PKn
23
67.6
2
Mendapatkan peralatan belajar yang lengkap
3
8.8
 3
Memiliki kamar belajar yang memadai
8
23.5
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga yang menunjang prestasi belajar siswa yaitu sebanyak 23 responden atau (67,6%) mengaku mendapatkan buku paket dan LKS PKn, sebanyak 3 responden atau (8,8%) mengaku mendapatkan peralatan belajar yang lengkap, dan sebanyak 8 responden atau (23,5%) mengaku memiliki kamar belajar yang memadai untuk belajar. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Kontunaga yang mendukung prestasi belajar khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu mendapatkan buku paket dan LKS PKn, mendapatkan peralatan belajar yang lengkap, dan memiliki kamar belajar yang memadai.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari orang tua siswa mengemukakan bahwa:
Dengan kondisi ekonomi yang memadai, seseorang atau siswa telah berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku dan LKS PKn, alat tulis serta kamar belajar yang memadai. Sehingga apabila kondisi ekonomi keluarga baik maka akan baik pula dalam mendukung prestasi belajar anak khususnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn (La Muna, A.Ma: wawancara tangga 20 Januari 2012)

Dari uraian di atas dapat disimpulklan bahwa kondisi ekonomi siswa yang mendukung prestasi belajar khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu mendapatkan buku paket dan LKS PKn, mendapatkan peralatan belajar yang lengkap, dan memiliki kamar belajar yang memadai. Dengan kondisi ekonomi yang memadai, seseorang atau siswa telah berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku dan LKS PKn, alat tulis serta kamar belajar yang memadai. Sehingga apabila kondisi ekonomi keluarga baik maka akan baik pula dalam mendukung prestasi belajar anak khususnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn.
Lingkungan sekolah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam lembaga pendidikan formal (sekolah) yang secara sistematis melaksanakan program pendidikan, dimana di tempat inilah kegiatan belajar mengajar berlangsung, ilmu pengetahuan diajarkan dan dikembangkan kepada anak didik yang membantu siswa mengembangkan potensinya.
Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) menunjukkan bahwa faktor lingkungan sekolah yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Kontunaga kususnya pada mata pelajaran PKn meliputi meliputi; metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, disiplin sekolah, dan fasilitas sekolah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.










Tabel 10. Lingkungan sekolah yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
Lingkungan Sekolah
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Metode mengajar
a
metode mengajar guru PKn yang baik
13
38.2
b
guru memiliki persiapan dan menguasai materi pelajaran PKn yang diajarkan
11
32.4
c
Guru menyajikan meteri pelajaran PKn dengan baik dan jelas
10
29.4
Jumlah
34
100.0
2
Kurikulum



a
Bahan pelajaran PKn mudah diterima, dikuasai dan dikembangkan oleh siswa
19
55.9

b
Pengaturan waktu sekolah ditetapkan secara jelas dan tepat
7
20.6

c
Pengaturan standar pelajaran secara jelas dan tepat sesuai kemampuan siswa
8
23.5
Jumlah
34
100.0
3
Relasi antara guru dan siswa


a
Guru PKn memiliki hubungan yang baik dengan para siswa
9
26.5
b
Guru PKn yang mengajar menyenangkan
16
47.1
c
Guru PKn sangat memahami kondisi para siswanya
9
26.5
Jumlah
34
100.0
4
Displin sekolah



a
Guru PKn disiplin dalam mengajar dan melaksanakan tata tertip sekolah
30
88.2

b
Para pegawai/staf disiplin dalam pekerjaana administrasi dan kebersihan keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain
1
2.9

c
Kepala sekolah disiplin dalam mengelola seluru guru, staf dan para siswa
2
5.9

d
Guru BP disiplin dalam pelayanan kepada siswa
1
2.9
Jumlah
34
100.0
5
Fasilitas sekolah


a
Papan tulis yang digunakan mengajar kondisinya baik
2
5.9
b
Guru PKn mengajar menggunakan OHP
13
38.2
c
Buku-buku diperpustakaan cukup memadai
19
55.9
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa faktor lingkungan sekolah yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu (a) metode belajar meliputi; metode mengajar guru PKn yang baik, guru memiliki persiapan dan menguasai materi pelajaran PKn yang, dan  guru menyajikan meteri pelajaran PKn dengan baik dan jelas; (b) kurikulum meliputi bahan pelajaran PKn mudah diterima, dikuasai dan dikembangkan, pengaturan waktu sekolah ditetapkan secara jelas dan tepat, dan pengaturan standar pelajaran secara jelas dan tepat sesuai kemampuan siswa; (c) relasi guru dan siswa meliputi; guru PKn memiliki hubungan yang baik dengan para siswa, guru PKn yang mengajar menyenangkan, dan  guru PKn sangat memahami kondisi para siswanya; (d) disiplin sekolah meliputi guru PKn disiplin dalam mengajar dan melaksanakan tata tertip sekolah, para pegawai/staf disiplin dalam pekerjaana administrasi dan kebersihan keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain, kepala sekolah disiplin dalam mengelola seluru guru, staf dan para siswa, dan guru BP disiplin dalam pelayanan kepada siswa; dan (5) fasilitas sekolah meliputi; papan tulis yang digunakan mengajar kondisinya baik, guru PKn mengajar menggunakan OHP, dan buku-buku diperpustakaan cukup memadai. Dengan demikian maka apabila faktor lingkungan sekolah ini baik maka prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn akan baik pula, sebaliknya apabila faktor lingkungan ini buruk maka prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn akan buruk pula.


Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang metode mengajar guru yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 11. Metode belajar guru
No
Metode belajar
Jumlah responden
Persentase (%)
1
metode mengajar guru PKn yang baik
13
38.2
2
guru memiliki persiapan dan menguasai materi pelajaran PKn yang diajarkan
11
32.4
3
guru menyajikan meteri pelajaran PKn dengan baik dan jelas
10
29.4
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa metode belajar guru PKn di kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga yaitu sebanyak 13 responden atau (38,2%) mengaku metode mengajar guru PKn baik, sebanyak 11 responden atau (32,4%) mengaku guru memiliki persiapan dan menguasai materi pelajaran PKn yang diajarkan, dan sebanyak 10 responden atau (29,4%) mengaku guru menyajikan meteri pelajaran PKn dengan baik dan jelas. Hal ini menunjukkan bahwa metode mengajar guru PKn di kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga tergolong baik dimana metode mengajar guru PKn yang baik, guru memiliki persiapan dan menguasai materi pelajaran PKn yang diajarkan, dan guru menyajikan meteri pelajaran PKn dengan baik dan jelas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari kepala sekolah bahwa:
Metode mengajar itu mempengaruhi belajar siswa. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Metode mengajar yang kurang baik itu dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa dan atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa malas untuk belajar. Diharapkan guru jangan terlalu banyak memberi tugas yang harus dikerjakan di rumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu lagi untuk kegiatan yang lain (Muh. Safiudin Mada, S.Pd: wawancara tanggal 20 Maret 2012)

Dari uraian pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengajar guru PKn di kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga tergolong baik karena guru PKn mengajar dengan baik, memiliki persiapan dan menguasai materi pelajaran PKn yang diajarkan, dan menyajikan meteri pelajaran PKn dengan baik dan jelas. Metode mengajar mempengaruhi belajar siswa, dimana metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar dan prestasi belajar siswa yang tidak baik pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa metode belajar guru berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa.

Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang kurikulum yang digunakan di SMA Negeri 1 Kontunaga khususnya pada mata pelajaran PKn siswa kelas XI dapat dilihat pada tabel berikut ini.




Tabel 12. Kurikulum
No
Kurikulum
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Bahan pelajaran PKn mudah diterima, dikuasai dan dikembangkan oleh siswa
19
55.9
2
Pengaturan waktu sekolah ditetapkan secara jelas dan tepat
7
20.6
3
Pengaturan standar pelajaran secara jelas dan tepat sesuai kemampuan siswa
8
23.5
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kurikulum yang digunakan di SMA Negeri 1 Kontunaga khususnya pada mata pelajaran PKn siswa kelas XI yaitu sebanyak 19 responden atau (55,9%) mengaku bahan pelajaran PKn mudah diterima, dikuasai dan dikembangkan oleh siswa, sebanyak 7 responden atau (20,6%) mengaku bahwa pengaturan waktu sekolah ditetapkan secara jelas dan tepat, dan sebanyak 8 responden atau (23,5%) mengaku bahwa pengaturan standar pelajaran secara jelas dan tepat sesuai kemampuan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum mengajar guru PKn yang ditetapkan di SMA Negeri 1 Kontunaga tergolong baik karena  bahan pelajaran PKn mudah diterima/dikuasai dan dikembangkan oleh siswa, pengaturan waktu sekolah ditetapkan secara jelas dan tepat, serta pengaturan standar pelajaran secara jelas dan tepat sesuai kemampuan siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari kepala sekolah bahwa:
Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa. Begitupula mengenai pengaturan waktu sekolah dan standar pelajaran yang harus ditetapkan secara jelas dan tepat dimana jika terjadi siswa terpaksa masuk sekolah disore hari, sebenarnya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Dimana siswa harus beristirahat, tetapi terpaksa masuk sekolah, hingga mereka mendengarkan pelajaran sambil mengantuk dan sebagainya. Sebaliknya siswa belajar di pagi hari, pikiran masih segar, jasmani dalam kondisi yang baik. Jika siswa bersekolah pada waktu kondisi badannya sudah lelah/lemah, misalnya pada siang hari, akan mengalami kesulitan di dalam menerima pelajaran. Kesulitan itu disebabkan karena siswa sukar berkonsentrasi dan perpikir pada kondisi badan yang lemah tadi. Jadi memilih waktu sekolah yang tepatakan memberi pengaruh yang positif terhadap belajar. Guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing sesuai dengan kurikulum yang ada. Jangan memberi pelajaran di atas ukuran standar (Safiudin Mada, S.Pd: wawancara tanggal 20 Januari 2012)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari Wakil Kepala Sekolah bahwa:
Kurikulum yang ditetapkan di sekolah dirancang dengan baik karena disesuaikan dengan ukuran standar kemapuan siswa sehingga guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing sesuai dengan kurikulum yang ada. Jangan memberi pelajaran di atas ukuran standar (Rabil Raena, S.Pd: wawancara tanggal 23 Januari 2012)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum mengajar guru PKn yang ditetapkan di SMA Negeri 1 Kontunaga tergolong baik karena bahan pelajaran PKn mudah diterima/dikuasai dan dikembangkan oleh siswa, pengaturan waktu sekolah ditetapkan secara jelas dan tepat, serta pengaturan standar pelajaran secara jelas dan tepat sesuai kemampuan siswa. Kurikulum yang ditetapkan di sekolah dirancang dengan baik karena disesuaikan dengan ukuran standar kemapuan siswa sehingga guru dalam menuntut penguasaan materi sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing sesuai dengan kurikulum yang ada. Guru tidak memberikan pelajaran di atas ukuran standard dan kemampuan siswa.

Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri. Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang relasi antara guru dan siswa di SMA Negeri 1 Kontunaga khususnya pada mata pelajaran PKn siswa kelas XI dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 13. Relasi antara guru dan siswa
No
Relasi antara guru dan siswa
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Guru PKn memiliki hubungan yang baik dengan para siswa
9
26.5
2
Guru PKn yang mengajar menyenangkan
16
47.1
3
Guru PKn sangat memahami kondisi para siswanya
9
26.5
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa relasi antara guru dan siswa di SMA Negeri 1 Kontunaga khususnya pada mata pelajaran PKn siswa kelas XI yaitu sebanyak 9 responden atau (26,5%) mengaku guru PKn yang mengajar dikelas memiliki hubungan yang baik dengan para siswa, sebanyak 16 responden atau (47,1%) mengaku guru PKn yang mengajar di kelas sangat menyenangkan, dan sebanyak 9 responden atau (26,5%) mengaku guru PKn yang mengajar di kelas sangat memahami kondisi para siswa Hal ini menunjukkan bahwa relasi antara guru PKn dan para siswa di kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga sangat baik, dimana guru PKn dan para siswa memiliki hubungan yang baik sehingga kondisi ini menimbulkan keinginan atau rasa senang saat guru tersebut mengajar. Selain itu, guru PKn tersebut sangat memahami kondisi para siswanya. Dengan demikian bahwa pembinaan relasi antara siswa dan guru merupakan faktor yang juga memiliki andil dalam meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari guru PKn bahwa:
Cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya. Di dalam relasi guru dengan siswa yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya. Hal tersebut juga terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya Maka ia segan mempelajari mata pelajaran yang diberikannya, akibatnya pelajarannya tidak maju (LD. Suhardin, SPd: Wawancara tanggal 23 Januari 2012).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cara belajar dan prestasi belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasi antara guru dan siswa dimana jika relasi anatara guru dan siswa baik maka cara belajar dan prestasi belajar siswa akan baik. Sebaliknya jika relasi anatara guru dan siswa tidak baik maka akan memperbutuk cara belajar serta prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn.

Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai/karyawan dalam pekerjaana administrasi dan kebersihan/keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain, kedisiplinan Kepala Sekolah dalam mengelola seluruh staf beserta siswa-siswanya, dan kedisiplinan tim BP dalam pelayanannya kepada siswa.
Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang kedisiplinan sekolah di SMA Negeri 1 Kontunaga dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 14. Kedisiplinan sekolah
No
Kedisiplinan sekolah
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Guru PKn disiplin dalam mengajar dan melaksanakan tata tertip sekolah
30
88.2
2
Para pegawai/staf disiplin dalam pekerjaana administrasi dan kebersihan keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain
1
2.9
3
Kepala sekolah disiplin dalam mengelola seluru guru, staf dan para siswa
2
5.9
Guru BP disiplin dalam pelayanan kepada siswa
1
2.9
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kedisiplinan sekolah di SMA Negeri 1 Kontunaga yaitu sebanyak 30 responden atau (88,2%) mengaku bahwa guru PKn disiplinan dalam mengajar dikelas dalam melaksanakan tata tertip sekolah, sebanyak 1 responden atau (2,9%) mengaku bahwa para pegawai/staf disiplin dalam pekerjaan administrasi dan kebersihan keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain,  sebanyak 2 responden (5,9%) mengaku bahwa kepala sekolah disiplin dalam mengelola seluru guru, staf dan para siswa, dan sebanyak 1 responden atau (2,9%) mengaku bahwa guru BP disiplin dalam pelayanan kepada siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kedisplinan sekolah di SMA Negeri 1 Kontunaga sangat baik, hal ini dapat dilihat dimana semua konponen sekolah baik itu guru khususnya guru PKn, para pegawai/staf, guru BP, dan kepala sekolah memiliki kedisiplinan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab sekolah.
Dengan demikian bahwa pembinaan kedisiplinan sekolah sangat menunjang dalam meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari kepala sekolah bahwa:
agar siswa belajar lebih maju, dan memiliki prestasi yang baik disekolah maka para siswa harus disiplin di dalam belajar baik di sekolah, di rumah dan di perpustakaan. Untuk meningkatkan kedisiplinan siswa tersebut haruslah guru beserta staf yang lain disiplin juga (Safiudin Mada, SPd: Wawancara tanggal 20 Januari 2012).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kedisplinan sekolah di SMA Negeri 1 Kontunaga sangat baik, dimana semua konponen sekolah baik itu guru khususnya guru PKn, para pegawai/staf, guru BP, dan kepala sekolah memiliki kedisiplinan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab sekolah. Dengan kedisiplinan sekolah yang baik maka selain akan memicu belajar siswa lebih maju dan prestasi belajar siswa yang baik khususnya pada mata pelajaran PKn.

Fasilitas sekolah terbagi menjadi dua bagian yaitu fasilitas fisik dan fasilitas non fisik. Fasilitas fisik meliputi ruang dan perlengkapan belajar dikelas, alat-alat peraga pengajaran, buku pelajaran dan perpustakaan, tempat dan perlengkapan berbagai pratikum, laboratorium serta pusat keterampilan, kesenian, keagamaan, olahraga dengan segala perlengkapannya. Sedangkan fasilitas non fisik seperti kesempatan, biaya dan berbagai aturan serta kebijaksanan pimpinan sekolah.
Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang fasilitas yang digunakan di SMA Negeri 1 Kontunaga khususnya pada mata pelajaran PKn siswa kelas XI dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 15. Fasilitas sekolah
No
Fasilitas sekolah
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Papan tulis yang digunakan mengajar kondisinya baik
2
5.9
2
Guru PKn mengajar menggunakan OHP
13
38.2
3
Buku-buku diperpustakaan cukup memadai
19
55.9
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan di SMA Negeri 1 Kontunaga khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu sebanyak 2 responden atau (5,9%) mengaku papan tulis yang digunakan mengajar kondisinya baik, sebanyak 13 responden atau (38,2%) mengaku bahwa guru PKn mengajar menggunakan OHP, dan sebanyak 19 responden atau (55,9%) mengaku bahwa buku-buku diperpustakaan cukup memadai. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan di SMA Negeri 1 Kontunaga cukup memadai karena papan tulis yang digunakan mengajar kondisinya baik, guru PKn mengajar menggunakan OHP, dan buku-buku diperpustakaan cukup memadai. Dengan demikian bahwa fasilitas sekolah merupakan faktor yang turut mendukung dalam meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari kepala sekolah bahwa:
Mengusahakan alat pelajaran yang baik dan lengkap adalah perlu agar guru dapat mengajar dengan baik sehingga siswa dapat menerima pelajaran dengan baik serta dapat belajar dengan baik pula. Kelengkapan fasilitas sekolah, seperti papan tulis, OHP akan membantu kelancaran proses belajar mengajar di sekolah. Selain untuk ruangan, sirkulasi udara dan lingkungan sekitar sekolah juga dapat mempengaruhi prestasi belajar mengajar (Safiudin Mada, S.Pd: wawancara tanggal 20 Januari 2012)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas sekolah di SMA Negeri 1 Kontunaga tergolong baik karena papan tulis yang digunakan mengajar kondisinya baik, guru PKn mengajar menggunakan OHP, dan buku-buku diperpustakaan cukup memadai. Kelengkapan fasilitas sekolah, seperti papan tulis, OHP akan membantu kelancaran proses belajar mengajar di sekolah juga dapat mempengaruhi prestasi belajar mengajar

Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) menunjukkan bahwa faktor lingkungan masyarakat yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga kususnya pada mata pelajaran PKn meliputi meliputi; perhatian orang tua, suasana rumah, dan sosial ekonomi keluarga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.



Tabel 16. Lingkungan keluarga yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
Lingkungan masyarakat
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Kegiatan siswa dalam masyarakat


a
Mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan
9
26.5

b
Menghindari berbagai acara/hiburan malam
25
73.5
Jumlah
34
100.0
2
Media massa


a
radio
3
8.8
b
 TV
10
29.4
c
buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya dengan pelajaran PKn di sekolah
21
61.8
Jumlah
34
100.0
3
Teman bergaul


a
Bergaul dengan para remaja masjid
10
29.4
b
Bergaul dengan teman-teman sekolah yang memiliki motivasi belajar
24
70.6
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa faktor lingkungan keluarga yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu (a) kegiatan belajar dalam masyarakat meliputi mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dan menghindari berbagai acara/hiburan; (b) media massa meliputi  radio, TV, dan buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya dengan pelajaran PKn di sekolah; (c) teman bergaul meliputi bergaul dengan para remaja mesjid dan bergaul dengan teman-teman sekolah yang memiliki motivasi belajar. Dengan demikian maka apabila faktor lingkungan masyarakat yang baik maka prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn akan baik pula, sebaliknya apabila faktor lingkungan ini buruk maka prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn akan buruk pula.
Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang kegiatan siswa dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 17. Kegiatan siswa dalam masyarakat
No
Kegiatan siswa dalam masyarakat
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan
9
26.5
2
Menghindari berbagai acara/hiburan malam
25
73.5
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kegiatan siswa dalam masyarakat yaitu sebanyak 9 responden atau (38,2%) mengaku mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dan sebanyak 25 responden atau (73,5%) mengaku menghindari berbagai acara/hiburan malam. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan siswa dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dan menghindari berbagai acara/hiburan malam.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari tokoh masyarakat bahwa:
Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi siswa tersebut sehingga siswa perlu membatasi kegiatan masyarakat yang diikutinya karena faktor lingkungan masyarakat tersebut akan berpengaruh pula pada prestasi belajar siswa (LD. Awa, SM.Hk: wawancara tanggal 23 Maret 2012)

Dari uraian pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan siswa dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dan menghindari berbagai acara/hiburan malam. Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi siswa tersebut dimana apabila pengaruh lingkungan masyarakat baik maka akan berdampak baik pula pada siswa, demikian sebaliknya jika pengaruh lingkungan masyarakat buru maka akan berdampak buruk pula pada siswa. Dengan demikian, siswa diharapkan perlu membatasi kegiatan masyarakat yang diikutinya dan harus hemat melihat mana lingkungan masyarakat yang baik dan mana yang buruk.
Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang media massa dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 18. Media massa
No
Media massa dalam masyarakat
Jumlah responden
Persentase (%)
1
radio
3
8.8
2
 TV
10
29.4
3
buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya dengan pelajaran PKn di sekolah
21
61.8
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa media massa dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu sebanyak 3 responden atau (8,8%) mengaku radio, sebanyak  10 responden atau (29,4) mengaku TV, dan sebanyak 21 responden atau (61,8%) mengaku buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya dengan pelajaran PKn di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa media massa dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu radio, TV, dan buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya dengan pelajaran PKn di sekolah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari tokoh masyarakat bahwa:
Jika anak atau siswa yang sering mendengar berita atau informasi baik melalui radio, TV, ataupun melalui buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya dengan pelajaran PKn di sekolah maka anak atau siswa tersebut akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luan. Dan jika seorang anak atau siswa memiliki wawasan dan pengatahuan yang luas maka pasti akan memiliki prestasi yang baik di sekolah (LD. Awa, SM.Hk: wawancara tanggal 23 Maret 2012)

Dari uraian pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa media massa dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu radio, TV, dan buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya dengan pelajaran PKn di sekolah. Jika anak atau siswa yang sering mendengar berita atau informasi baik melalui radio, TV, ataupun melalui buku-buku atau surat kabar yang ada hubungannya dengan pelajaran PKn di sekolah maka anak atau siswa tersebut akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luan. Dan jika seorang anak atau siswa memiliki wawasan dan pengatahuan yang luas maka pasti akan memiliki prestasi yang baik di sekolah.
Berdasarkan hasil analisis angket terhadap 34 responden (siswa) tentang teman bergaul dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 19. Teman bergaul
No
Teman bergaul dalam masyarakat
Jumlah responden
Persentase (%)
1
Bergaul dengan para remaja masjid
10
29.4
2
Bergaul dengan teman-teman sekolah yang memiliki motivasi belajar
24
70.6
Jumlah
34
100.0
     Sumber : data primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa teman bergaul responden dalam masyarakat yaitu sebanyak 10 responden atau (29,4%) mengaku bergaul dengan para remaja masjid dan sebanyak 24 responden atau (70,6%) mengaku bergaul dengan teman-teman sekolah yang memiliki motivasi belajar. Hal ini menunjukkan bahwa teman bergaul dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu bergaul dengan para remaja masjid dan bergaul dengan teman-teman sekolah yang memiliki motivasi belajar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dari tokoh masyarakat bahwa:
Cara pergaulan anak dalam masyarakat dapat mempengaruhi mental anak, sehingga para generasi muda dalam hal ini para siswa apabila bergaul dalam masyarakat harus memperhatikan teman bergaulnya karena apabila salah memilih teman bergaul maka akan berdampak buruk pada generasi muda atau siswa tersebut. Banyak realita sekarang terjadi dalam lingkungan masyarakat dimana para anak muda dan anak sekolah serimg tauran, minum alkohol, dan melakukan tindak kejahatan lainnya. Ini semua terkadang karena pergaulan yang salah  (LD. Awa, SM.Hk: wawancara tanggal 23 Maret 2012)

Dari uraian pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa teman bergaul dalam masyarakat yang ikut menunjang prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn yaitu bergaul dengan para remaja masjid dan bergaul dengan teman-teman sekolah yang memiliki motivasi belajar. Karena apabila salah bergaul maka akan berdampak buruk pada siswa baik itu pada saat belajar maupun prestasi belajar siswa tersebut.
.
Berdasarkan hasil ulangan yang diperoleh pada guru mata pelajaran menunjukkan bahwa dari 34 orang siswa memiliki hasil belajar yang baik. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 20. Hasil belajar siswa
Angka
Huruf
Predikat
Jumlah orang
Presentase (%)
8
-
10  = 80 – 100
A
Sangat baik
11
32.4
7
-
7,9 = 70 – 79
B
Baik
21
61.8
6
-
6,9 = 60 – 69
C
Cukup
2
5.9
5
-
5,9 = 50 – 59
D
Kurang
0
0
0
-
4,9 = 0 - 49
E
Gagal
0
0
Total
34
100
             Sumber : data hasil angket yang diolah.
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki hasil belajar yang baik. Hal ini dapat dilihat dari 34 siswa yang dijadikan sampel (responden), sebanyak 21 orang (61,8%) memiliki hasil belajar yang baik. Selebihnya, terdapat 11 orang siswa (32,4%) memiliki hasil belajar yang sangat baik dan 2 orang siswa (5,9%) memiliki prestasi belajar yang cukup. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kontutana pada mata pelajaran PKn berada pada kategori hasil belajar yang baik.

Lingkungan selalu mengitari manusia dari waktu dilahirkan sampai meninggalnya, sehingga antara lingkungan dan manusia terdapat hubungan timbal balik dalam artian lingkungan mempengaruhi manusia dan manusia mempengaruhi lingkungan. Begitu pula dalam proses belajar mengajar, lingkungan merupakan sumber belajar yang banyak berpengaruh dalam proses belajar maupun perkembangan anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2003:2) menyatakan “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Pengertian belajar di atas menekankan bahwa belajar merupakan suatu pengalaman dan pengalaman itu salah satunya diperoleh berkat adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Adapun pengaruh faktor lingkungan yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat diuraikan sebagai berikur.


Lingkungan sebagai sumber belajar menurut Depdikbud (1990:70) menyatakan bahwa lingkungan sebagai sumber belajar dapat dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial”. Contoh lingkungan fisik yang dapat digunakan sebagai sumber belajar adalah buku, musium, toko, pasar, jalan, sungai sedangkan yang termasuk dalam contoh lingkungan sosial adalah keluarga dan masyarakat.
Dari contoh tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar sebagai sumber belajar meliputi aspek manusia dan non manusia. Ngalim Purwanto (2004:141) menyatakan bahwa lingkungan pendidikan yang ada dapat digolongkan menjadi tiga yaitu (1) lingkungan keluarga, yang disebut juga lingkungan pertama, (2) lingkungan sekolah, yang disebut juga lingkungan kedua, dan (3) lingkungan masyarakat, yang disebut juga lingkungan ketiga.
Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan yang akan mempengaruhi manusia secara bervariasi. Sementara itu faktor lingkungan masyarakat pun tidak kecil pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak. Memang ada pengaruh yang justru menyebabkan timbulnya masalah bagi sebagian pelajar, tetapi ada pula yang memberikan pengaruh yang positif. Dalam hal ini, soal pengaruh positif atau negatif yang akan diperoleh oleh pelajar dari lingkungan masyarakatnya, sangat tergantung dari bagaimana cara si pelajar menghadapinya. Terutama mampukah ia memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan belajar yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga yaitu (a) faktor lingkungan keluarga meliputi; perhatian orang tua, suasana rumah, dan sosial ekonomi keluarga; (b) faktor lingkungan sekolah meliputi; metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, disiplin sekolah, dan fasilitas sekolah; dan (c) faktor lingkungan masyarakat meliputi; kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, dan teman bergaul. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Kontunaga pada mata pelajaran PKn terdiri dari tiga faktor yaitu faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan sekolah, dan faktor lingkungan masyarakat dimana apabila ketiga faktor lingkungan ini baik maka baik pula prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn, demikian sebaliknya apabila ketiga faktor lingkungan ini buruk maka buruk pula prestasi belajar siswa
Lingkungan keluarga adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam kelompok sosial kecil tersebut, yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang mempunyai hubungan sosial karena adanya ikatan darah, perkawinan dan atau adopsi.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor keluarga merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian dan prestasi belajar anak. Faktor tersebut meliputi; perhatian orang tua, suasana rumah, dan sosial ekonomi keluarga. Menurut Slameto (2003:60-64) bahwa siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga dimana pengaruh  berupa cara orang tua mendidik, sosial ekonomi keluarga, pendidikan orang tua, perhatian orang tua, pengertian orang tua, suasana rumah, latar belakang kebudayaan. 
Menurut para ahli psikologi, lingkungan yang banyak memberikan sumbangan dan besar pengaruhnya terhadap proses belajar maupun perkembangan anak adalah lingkungan keluarga. Karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan primer yang kuat pengaruhnya kepada individu dibandingkan dengan lingkungan sekunder yang ikatannya agak longgar. Selain itu keluarga juga merupakan lingkungan pendidikan pertama pra sekolah yang dikenal anak pertama kali dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Keluarga sebagai lingkungan belajar pertama sebelum lingkungan sekolah dan masyarakat,
Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa anak menerima pendidikan pertama kali dalam lingkungan keluarga kemudian dilanjutkan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Dengan kata lain bahwa tanggung jawab pendidikan anak terletak pada kerjasama antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga sebagai lingkungan belajar pertama mempunyai peranan dan pengaruh yang besar dalam menuntun perkembangan anak untuk menjadi manusia dewasa. Untuk mengadakan pembahasan lebih lanjut tentang sumbangan dan peranan keluarga dalam mempengaruhi proses belajar dan perkembangan anak, maka perlu dikaji pengertian lingkungan keluarga.
Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu semangat berprestasi bagi seseorang. Dukungan dalam hal ini bias secara langsung, berupa pujian atau nasehat, maupun cara tidak langsung seperti hubungan keluarga yang harmonis. Selain itu, perhatian orang tua yang dapat mendukung prestasi belajar anak berupa dengan memperhatikan dan menanyakan hasil belajar anak di sekolah, memperhatikan dan mengontrol cara belajar anak dirumah, dan melengkapi buku pelajaran anak khususnya buku pelajaran PKn. Anak belajar perlu pengertian dan perhatian dari orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah. Kadang-kadang anak kurang bersemangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu kesulitan yang dialami anak di sekolah.
Selain dukungan keluarkan faktor lingkungan keluarga yang juga turut mendukung yaitu suasana rumah dimana suasana rumah yang nyaman dan sejuk saat belajar, suasana rumah yang jauh dari keramaian, dan suasana rumah yang harmonis. Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Selanjutnya agar anak dapat belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tenteram. Dengan demikian, maka kondisi suasana rumah juga mengambil andil dalam mendukung baik buruknya prestasi belajar anak khususnya pada mata pelajaran PKn.
Faktor yang tidak kalah penting pula yaitu kondisi ekonomi keluarga, dimana dengan kondisi ekonomi keluarga yang cukup baik maka para siswa akan mendapatkan buku paket dan LKS PKn, mendapatkan peralatan belajar yang lengkap, dan memiliki kamar belajar yang memadai. Sehingga apabila kondisi ekonomi keluarga baik maka akan baik pula dalam mendukung prestasi belajar anak khususnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan sekolah yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu (a) metode belajar meliputi; metode mengajar guru PKn yang baik, guru memiliki persiapan dan menguasai materi pelajaran PKn yang, dan  guru menyajikan meteri pelajaran PKn dengan baik dan jelas; (b) kurikulum meliputi bahan pelajaran PKn mudah diterima, dikuasai dan dikembangkan, pengaturan waktu sekolah ditetapkan secara jelas dan tepat, dan pengaturan standar pelajaran secara jelas dan tepat sesuai kemampuan siswa; (c) relasi guru dan siswa meliputi; guru PKn memiliki hubungan yang baik dengan para siswa, guru PKn yang mengajar menyenangkan, dan  guru PKn sangat memahami kondisi para siswanya; (d) disiplin sekolah meliputi; guru PKn disiplin dalam mengajar dan melaksanakan tata tertip sekolah; para pegawai/staf disiplin dalam pekerjaana administrasi dan kebersihan keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain; kepala sekolah disiplin dalam mengelola seluru guru, staf dan para siswa; dan guru BP disiplin dalam pelayanan kepada siswa; dan (5) fasilitas sekolah meliputi; papan tulis yang digunakan mengajar kondisinya baik, guru PKn mengajar menggunakan OHP, dan buku-buku diperpustakaan cukup memadai. Hasil penelitian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Slameto (2003:64) menyatakan bahwa faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.
Dengan demikian maka apabila faktor lingkungan sekolah ini baik maka prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn akan baik pula, sebaliknya apabila faktor lingkungan ini buruk maka prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn akan buruk pula. Lingkungan sekolah sangat besar peranannya di dalam menentukan dan meningkatkan prestasi belajar siswa
Lingkungan masyarakat adalah merupakan lembaga pendidikan yang ketiga sesudah keluarga dan sekolah mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda karena keanekaragaman budaya, bentuk kehidupan sosial serta adanya norma-norna yang berlaku dalam masyarakat tersebut dan merupakan tempat orang-orang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
Berdasarkan hasil penelitian maka diketahui bahwa faktor lingkungan masyarakat yang turut mengambil andil dalam meningkatkan prestasi belajar siswa meliputi; kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, dan teman bergaul
Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi siswa perlu membatasi kegiatan masyarakat yang diikutinya, kalau perlu memilih kegiatan yang mendukung belajarnya.
Selain itu media masa seperti radio, TV, surat kabar, buku-buku, dll yang ada dan beredar dalam masyarakat dapat memberi pengaruh yang baik dan buruk terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya dimana apabila media masa yang baik juga berpengaruh baik terhadap siswa sebaliknya jika jelek berpengaruh jelek pula terhadap siswa.
Faktor yang juga ikut mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu pengaruh-pengaruh dari teman bergaul siswa. Teman bergaul siswa lebih cepat masuk dalam jiwanya dari pada yang kita duga sehinga teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa, begitu juga teman bergaul yang jelek pasti mempengaruhi yang bersifat buruk juga.
Marsun dan Martaniah dalam Sia (2000:71) berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yang sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan yang baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas responden memiliki hasil belajar yang baik. Hal ini dapat dilihat dari 34 siswa yang dijadikan sampel (responden), sebanyak 21 orang (61,8%) memiliki hasil belajar yang baik. Selebihnya, terdapat 11 orang siswa (32,4%) memiliki hasil belajar yang sangat baik dan 2 orang siswa (5,9%) memiliki prestasi belajar yang cukup. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga pada mata pelajaran PKn berada pada kategori hasil belajar yang baik. Dengan demikian maka prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga pada mata pelajaran PKn juga tergolong baik.
Baiknya prestasi belajar mata pelajaran PKn dari sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kontunaga Tahun Ajaran 2011/2012 karena salah satunya yaitu karena adanya dukungan dari faktor lingkungan belajar siswa. dengan adanya dukungan lingkungan belajar seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat terhadap kegiatan belajar siswa telah baik, maka keinginan dari siswa yang bersangkutan tersebut untuk belajar masih tinggi, sehingga siswa dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pokok utama yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn adalah dengan memperhatikan faktor lingkungan belajar siswa yang pada akhirnya ada keinginan dari siswa untuk belajar secara disiplin guna memperoleh pemahaman yang seluas-luasnya dari kegiatan belajar yang dilakukan yang pada akhirnya dapat berdampak pada prestasi belajar yang baik yang akan dicapai oleh siswa tersebut.



KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: