Jumat, 25 Mei 2012

2.1 Syarat-syarat Pantun Secara Umum
Pada karya seperti pantun dan syair memiliki komposisi yang hamper sama, namun ada hal yang paling menonjol pada pantun tu sendiri dan memiliki syarat sebagai berikut.
a.    Tiap bait terdiri atas empat baris
b.    Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata
c.    Sajaknya memiliki rumus a-b – a-b,
d.    Kedua baris pertama merupakan sampiran, sedangkan isinya terdapat pada kedua baris terakhir.
2.2 Pambagian Pantun Menurut Isinya
Pantun dapat dipergunakan untuk menyatakan segala macam perasaan atau curahan hati, baik untuk menyatakan perasaan senang, sedih, cinta, benci, jenaka, ataupun untuk menyatakan nasihat agama, adapt, dan sebagainya, pantun dapat dipergunakan oleh semua umur, baik anak-anak, pemuda-pemudi, maupun orang tua.
Berdasarkan isinya, pantund apat kita bagi atas :
a.    Pantun Kanak-kanak
- Pantun bersukacita
- Pantun berdukacita
b.    Pantun Muda
1. Pantun nasib atau pantun dagang
2. Pantun perhubungan
- Pantun perkenalan
- Pantun berkasih-kasihan
- Pantun perceraian
- Pantun beriba hati
3. Pantun jenaka
4. Pantun teka-teki
c.    Pantun Tua
- Pantun adat
- Pantun agama
- Pantun nasihat
2.3 Contoh Pantun
1. Pantun kanak-kanak bersukacita
Burung elang burung merpati
Terbang ke kubur mencari makan
Bukan kepalang senangnya hati
Melihat ibu pulang dari pekan
2. Pantun Kanak-kanak berdukacita
Lurus jalan ke Payakumbuh
Kayu jati bertimbal jalan
Dimana hati tidaklah rusuh
Ibu mati bapak berjalan.
3. Pantun dagang atau pantun nasib
Unggas undah si raja burung
Terbang ke desa suka menanti
Wahai badan apalah untung
Senantiasa bersusah hati
4. Pantun Perkenalan
Burung merpati burung kayangan
Melayang terbang atas angkasa
Bunga melati dalam jambangan
Bolehkah kumbang hinggap disana?
5. Pantun berkasih-kasihan
Gajah menong dihutan jawa
Berada dua patah gadingnya
Emas perak timbangan nyawa
Tuan seorang sukar bandingnya
6. Pantun perceraian
Jika jadi tuan ke pekan
Padi mana ditunggalkan
Jika jadi tuan berjalan
Kami dimana ditinggalkan
7. Pantun beriba hati
Dari mentuk ke batu kampar
Saya tidak ke jawa lagi
Bumi ditepuk langit ditampar
Saya tidak percaya lagi
8. Pantun jenaka
Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah ketawa juga
9. Pantun teka-teki
Kalau puan, puan cerana
Ambil gelas didalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk dikaki
10. Pantun adat
Kayu pantai di kota alam
Rantainya sendi-bersendi
Jika engkau pandai di alam
Patah tumbuh hilang berganti
11. Pantun Nasihat
Satu dua tiga dan empat
Lima enam tujuh delapan
Tuntun ilmu sampai dapat
Jangan pernah putus harapan
12. Pantun agama
Asam kandis asm gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat didalam kubur
Teringat badan tidak sembahyang
2.4 Pembagian pantun menurut banyaknya baris tiap bait (couplet)
1. Pantun dua seuntai atau pantun dua serangkai atau pantun kilat atau karmina
Contoh :
Satu dua tiga empat
Siapa cepat dia dapat
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan binasa
Dahulu loyang sekarang besi
Dahulu sayang sekarang benci
2. Pantun Empat seuntai atau pantun empat serangkum
Contoh :
Karena apa binasa pandan
Kalau tidak kena paku
Karena apa binasa badan
Kalau tidak karena laku
Pisang emas bawa berlayar
Masak sebiji di atas peti
Utang emas dapat dibayar
Utang budi dibawa mati
3. Pantun enam seuntai, delapan seuntai, atau pantun enam serangkum, delapan serangkum (talibun)
Kalau jadi pergi kepekan
Hiu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau jadi engkau berjalan
Ibu cari anakpun cari
Induk semang cari dahulu
4. Pantun berkait
Pantun berkait adalah ikatan pantun yang terdiri dari beberapa bait. Baris ke-2 dan 4 pada tiap-tiap pantun menjadi baris ke-1 dan 3 pantun berikutnya. Jadi, pantun yang satu terikat dengan pantun yang lain sehingga merupakan rangkaian pantun yang bersambung sambungan.
Dengarlah pantun
Buah ara batang dibantur
Mari dibantun dengan parang
Hai saudara dengarlah pantun
Pantun tidak mengata orang
Mari dibantun dengan parang
Berangan besar di dalam padi
Pantun tidak mengata orang
Janganlah syak di dalam hati
Berangan besar di dalam padi
Rumpun buluh dibuat pagar
Janganlah syak di dalam hati
Maklum pantun saya baru belajar.
2.5 Fungsi Pantun
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Dikalangan pemuda sekarang kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain. Namun demikian, secara umum peran social pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pantun merupakan puisi asli Indonesia yang digolongkan kedalam bentuk puisi lama. Syarat-syarat pantun :
a. Tiap bait terdiri atas empat baris
b. Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 sukukata.
c. Sajaknya memiliki rumus a-b – a-b.
d. Kedua baris pertama apakah sampiran, sedangkan isinya terdapat pada kedua baris terakhir.
Adapun contoh pantun
Puri berdekatan dengan balai,
Balai gading berdinding kaca
Di hati tidak dapat di nilai
Bulang terdinding terang cuaca.
3.2 Saran
Seorang sastrawan harus mampu menguasai syarat-syarat pantun. Dalam karya sastra khususnya karya sastra dalam bentuk puisi lama harus dapat menunjang dalam proses pembelajaran.
PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN
ANTENATAL CARE FISIOLOGI
(SOAP)
TANGGAL 22 April 2012

IDENTITAS IBU/SUAMI
Nama     : Ny. “ Mariana ” / Tn. “ Samrin ”
Umur     : 26 Thn / 28 Thn
Suku    : Muna / Muna
Agama    : Islam / Islam
Pendidikan    : SMA /SD
Pekerjaan    : Wirasuasta/Wiraswasta
Alamat    : Jln. Laute Baru

DATA SUBJEKTIF(S)
1.    Ibu mengatakan bahwa ia sering merasa lelah
2.    Riwayat Keluhan Utama         : sering merasa lelah
a.    Mulai timbul sejak 2 minggu yang lalu      
b.    Sifat keluhan         : sering
c.    Pengaruh terhadap aktifitas: ibu merasa sangat terganggu
3.    Riwayat haid
a.    Menarche          : 15 tahun
b.    Siklus        : 28-30 hari
c.    Durasi haid    : 4-7 hari
d.    Banyaknya        : 3 pembalut/hari
e.    Perlangsungan    : Normal
f.    Desmenorhoe    : tidak ada
4.    Riwayat perkawinan
a.    Status perkawinan : kawin    
b.    Ibu mengatakan bahwa ini pernikahan yang pertamanya
c.    Ibu mengatakan lama menikah :   10 tahun

5.    Riwayat kehamilan sekarang
a.    ibu mengatakan hamil yang ke tiga kalinya dan tidak pernah keguguran
b.    ibu mengatakan Hari Pertama Haid Terakhir Tanggal 26-09-2011
c.    ibu mengatakan imunisasi TT lengkap (2x) pada umur kahamilan 24 minggu
d.    Ibu mengatakan merasakan pergerakan janin pada umur kehamilan 20 minggu
e.    Ibu mengatakan keluhan pada hamil muda : mual, muntah dan pusing
f.    Ibu mengatakan selama hamil obat yang di komsumsi yaitu SF, Kalak, B.Complex, dan Vit.C.
6.    Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Hamil ke    Tahun Partus    Umur kehamilan    Persalinan    Bayi    Nifas    Komplikasi kehamilan,persalinan,dan nifas
            Jenis    Penolong    Tempat    JK    BB    PB    Perlangsungan    lactasi  
1    2005    Aterm    normal    dukun    Rumah    L    2900    -    normal    1 bln    Tidak ada
2    2006    Aterm    normal    Bidan    Rumah sakit    P    3800    -    normal    8 bln    Tidak ada
3    2011    KEHAMILAN SEKARANG

7.    riwayat kesehatan yang lalu
-    Jantung        :    Tidak ada
-    TBC        :    Tidak ada
-    Hepatitis B    :    tidak ada
-    Hipertensi        :    Tidak ada
-    Malaria        :    Tidak ada
-    Diabetes Mellitus :    Tidak ada
-    Asma        :    Tidak ada
-    Penyakit Lain    :    Tidak ada
-    Ibu mengatakan tidak pernah mengkonsumsi alcohol, merokok, obat-obatan, selain yang diberikan bidan.

      
8.    Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan baik dari pihak ibu ataupun ayahnya tidak ada riwayat penyakit keturunan, penyakit menular seksual, maupun riwayat anak kembar.
9.    Riwayat Keluarga Berencana
Ibu mengatakan pernah menjadi akseptor KB pil selama  3 tahun
10.    Pemenuhan kebutuhan dasar
    Kebutuhan nutrisi
Kebiasaan :
- Pola makan         : baik dan teratur
- Frekuensi makan     : 3x sehari
- Kebutuhan minum    : 7-8 gelas /hari
    Kebutuhan eliminasi
Kebiasaan :
-    Frekuensi BAK    : 5-6 x / hari
-    Warna/bau khas    : kuning muda / bau khas amoniak
-    Frekuensi BAB     : 1- 2x / hari
-    Konsistensi           : lunak
-    Gangguan eliminasi : tidak ada
    Kebutuhan kebersihan diri / personal hyegine
Kebiasaan :
-    Kebersihan rambut    : keramas 2-3x seminggu menggunakan shampoo
-        Kebersihan badan    : mandi 2x sehari dengan menggunakan sabun mandi
-    Kebersihan gigi / mulut : gigi/mulut dibersihkan setiap kali mandi dan sebelum tidur dengan menggunakan pasta gigi
-    Kebersihan kuku    : kuku tangan dan kaki di bersihkan setiap kali kotor dan di potong setiap kali panjang.
-    Kebersihan genitalia     : genitalia dibersihkan setiap kali mandi, BAK dan BAB  
-    Kebersihan pakaian     :  pakaian diganti setiap kali kotor dan sehabis mandi.
11.     Data Psikologis
a.  Reaksi emosional suami dan keluarga yaitu sangat senang dengan kehamilan ibu
b.   ibu merasa senang dengan kehamilannya sekarang.

12.    Data Sosial
a.    Dukungan suami dan keluarga : sangat mendukung dengan kehamilan Ibu
b.    Hubungan ibu dengan suami , keluarga dan tetangga baik.
c.    Pengambil keputusan dalam keluarga yaitu suami.

DATA OBJEKTIF (O)
1.    Tafsiran persalian tanggal 02-07-2012
2.    Keadaan umum ibu baik
3.    Kesadaran composmentis
4.    Berat badan :  44 Kg
5.    Tinggi badan : 158 Cm
6.    LILA             : 27 cm
7.    Tanda-tanda Vital :
a.    Tekanan darah : 100/70 MmHg
b.    Nadi                : 98 x/menit
c.    Pernafasan       : 22x/menit
d.    Suhu                : 36,5 C
8.    Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
    Kepala/rambut                                    Kepala dan rambut tampak bersih, rambut panjang, hitam,lurus,tidak rontok, tidak ada ketombe dan tidak ada benjolan.
    Wajah/muka                                         Ekspresi wajah tampak tenang, tidak ada cloasma gravidarum, wajah tidak pucat dan tidak oedema.
    Mata
Mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterus, dan penglihatan normal.
    Hidung
Lubang hidung simetris kiri dan kanan, hidung tampak bersih, tidak ada secret, tidak ada polip, tidak ada epitaksis, pernafasan normal, penciuman normal.
    Mulut dan gigi
 Bibir lembab, bibir tidak pecah-pecah, tidak ada sariawan, lidah tampak bersih, terdapat caries, tidak ada gigi tanggal.
    Telinga                                     Simetris kiri dan kanan, Nampak bersih, tidak ada pengeluaran secret, daun telinga berbentuk sempurna, tidak ada benjolan, pendengaran normal.
    Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan tidak ada pembesaran vena jugularis.
    Payudara                                     Simetris kiri dan kanan, tampak bersih, putting susu menonjol, tidak ada benjolan, areola mammae hiperpigmentasi, kolostrum sedikit.
    Abdomen                                     Pembesaran perut sesuai dengam umur kehamilan, tidak ada bekas luka operasi,  tonus otot perut tidak tegang, tampak striae albicans.
    Ekstremitas atas dan bawah  
Tangan simetris kiri dan kanan, kaki simetris kiri dan kanan, tidak terdapat oedema pada tangan dan kaki, tidak ada varicess pada tangan dan kaki dan warna kuku kemerah-merahan.

Periksa Raba
    Lingkar Perut                      : 89 Cm
     Pemeriksaan panggul luar
-    Distansia spinarum      : 24 cm
-    Distasium kristarum     : 27 cm
-    Conjugata Eksterna       : 18 cm
-    Distansia Tuberum        : 10 cm
    Palpasi Leopold
-    Tonus otot perut        : tidak tegang
-    Tinggi fundus uteri    : 38 cm
-    Leopold I            : tinggi fundus uteri setinggi processus xypoideus ( PX )
-    Leopold II            : punggung kiri ( PUKI )
-    Leopold III        : presentase kepala
-    Leopold IV         :bagian terendah janin sudah masuk pintu atas panggul ( divergen ).
    Tafsiran Berat Janin ( TBJ ) : 89 x 38 = 2,34 Kg

    Auskultasi
Detak Jantung Janin/DJJ (+), kuat, jelas, teratur, terdengar pada satu daerah yaitu kuadran kanan perut ibu, frekuensi 142 x/menit.

Perkusi
-    Pemeriksaan ginjal        : normal
-    Refleks patella            : positif (+)

9.    Pemeriksaan Laboratorium
-    Protein urine        : negatif ( - )
-    Hemoglobin ( HB )    : 8,2 gr/dl

NASEHAT :
    Menjelaskan kepada ibu bahwa gangguan sering merasa lelah yang di alami merupakan hal yang fisiologis/normal dalam kehamilannya karena pada trimester III perut ibu semakin membesar sehingga ibu sering merasa lelah.
    Menganjurkan kepada ibu ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi dan mengandung serat dengan menu seimbang, makanan yang mengandung serat dapat membantu melancarkan buang air besar serta menu yang seimbang diperlukan untuk kebutuhan nutrisi ibu dan janinnya serta makanan bergizi sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang janin selama dalam kandungan.
    Menganjurkan pada ibu untuk menjaga kebersihan diri, terutama daerah genitalianya, kebersihan tubuh dapat mencegah terjadinya penyakit untuk mencegah terjadinya infeksi pada jalan lahir, serta ibu harus mengganti pakaian dalam apabila basah karena tempat yang lembab merupakan tempat mikroorganisme berkembang biak.
    Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi obat yang diberikan secara teratur :
-    Sulfat Ferosus / SF    : mengandung ferosulfat 200 mg dan asam sulfat yang diperlukan dalam mengatasi anemia, meningkatkan sel darah merah, dan membentuk sel darah pada janin dan plasenta.
-    Kalak ( kalsium laktat ) : merupakan asupan kalsium yang sangat berguna untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin.
-    Vitamin C        : sangat berguna dalam membantu mempercepat proses absorpsi pada SF serta berguna sebagai anti oksidan.
-    Vitamin B complex : sebagai vitamin untuk penambah nafsu makan.
    Menganjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup, dengan istirahat yang cukup maka akan membantu mengurangi beban kerja jantung yang mengalami peningkatan karena hamil.
    Mendiskusikan kepada ibu agar bersalin di tempat pelayanan kesehatan agar ditolong oleh bidan / dokter.
    Menganjurkan kepada ibu untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur.
    Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya dalam kehamilan yaitu :
-    perdarahan pervaginam
-    sakit kepala yang hebat
-    penglihatan kabur
-    bengkak pada wajah, tangan dan kaki
-    pecahnya ketuban sebelum waktunya
-    berkurangnya pergerakan janin
-    hipertensi dan kejang
-    mual dan muntah yang berlebihan
-    nyeri epigastrium
-    pucat, letih dan lesu
-    berat badan tidak bertambah
apabila ibu menemukan salah satu dari tanda-tanda bahaya diatas maka ibu harus segera menghubungi petugas kesehatan terdekat agar dapat ditangani secepat mungkin.

ASSESMENT ( A )
GIII  PII   A0  , umur kehamilan 29 minggu 6 hari, kehamilan intra uterin, janin tunggal, janin hidup, punggung kiri, presentase kepala, kepala sudah masuk pintu atas panggul / PAP ( divergen ), keadaan umum ibu dan janin baik, dengan masalah sering merasa lelah.

PLANNING ( P )
    Tanggal : 22 – 04 – 2012            jam : 14.30 wita
1.    Melakukan informed consent kepada ibu untuk setiap tindakan yang akan dilakukan.
Rasional : informed consent penting untuk membantu melancarkan tindakan yang akan di lakukan, meningkatkan mutu pelayanan serta melindungi tenaga kesehatan dari kemungkinan tuntutan hukum.
Hasil : ibu bersedia untuk diperiksa
2.    Menjelaskan tentang hasil pemeriksaan
Rasional : agar ibu mengetahui keadaannya dan janinnya sehingga ibu merasa tenang.
Hasil : ibu senang dengan hasil pemeriksaan.
3.    Jelaskan pada ibu bahwa gangguan sering merasa lelah yang dialami merupakan hal yang fisiologis / normal dalam kehamilannya.
Rasional : sering merasa lelah pada trimester III merupakan hal yang fisiologis karena kandungan ibu semakin membesar yang menyebabkan ibu sering merasa lelah.
Hasil : ibu senang dan tidak khawatir lagi dengan keadaannya.
4.    Memberikan Health Education ( HE ) tentang :
a.    Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi dan mengandung serat dengan menu seimbang.
Rasional : makanan yang mengandung serat dapat membantu melancarkan Buang Air Besar/BAB serta menu yang seimbang diperlukan untuk kebutuhan nutrisi ibu dan janinnya serta makanan bergizi sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang janin selama dalam kandungan.
Hasil : ibu mengerti dan mau mengkonsumsi makanan yang bergizi.
b.    Menganjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup
Rasional :  dengan istirahat yang cukup maka akan membantu mengurangi beban kerja jantung yang mengalami peningkatan karena hamil.
Hasil : ibu bersedia dan mau melakukan anjuran yang diberikan.
c.    Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi obat yang diberikan secara teratur yaitu SF, kalsium laktat/kalak, vitamin C, vitamin B complex.

Rasional :
-    Sulfat Ferosus 1 x 1 : mengandung ferosulfat 200 mg dan asam sulfat yang diperlukan dalam mengatasi anemia, meningkatkan sel darah merah, dan membentuk sel darah pada janin dan plasenta.
-    Kalsium laktat/kalak 1x1 : merupakan asupan kalsium yang sangat berguna untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin.
-    Vitamin C     1x1    : sangat berguna dalam membantu mempercepat proses absorpsi pada SF serta berguna sebagai anti oksidan.
-    Vitamin B complex 2x1 : sebagai vitamin untuk penambah nafsu makan.
Hasil : ibu akan minum obat secara teratur sesuai dengan anjuran yang diberikan.
d.    Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri, terutama pada daerah genitalia.
Rasional : kebersihan tubuh dapat mencegah terjadinya penyakit untuk mencegah terjadinya infeksi pada jalan lahir, serta ibu harus mengganti pakaian dalam apabila basah karena tempat yang lembab merupakan tempat mikroorganisme berkembang biak.
Hasil : ibu bersedia dan mau melakukan anjuran yang diberikan.
5.    Diskusikan pada ibu tentang rencana persalinan dan kelahiran agar ditolong oleh tenaga kesehatan.
Rasional : persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dapat meminimalkan resiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, serta dapat memberikan penanganan segera untuk hal-hal tersebut.
Hasil : ibu senang dan sudah mempunyai rencana untuk bersalin di rumah sakit atau peskesmas dan ditolong oleh dokter/ bidan.
6.    Anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur.
Rasional : untuk mendeteksi bila ada tanda-tanda bahaya kehamilan.
Hasil : ibu bersedia memeriksakan kehamilannya secara teratur.
7.    Jelaskan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya dalam kehamilan
-    perdarahan pervaginam
-    sakit kepala yang hebat
-    penglihatan kabur
-    bengkak pada wajah, tangan dan kaki
-    pecahnya ketuban sebelum waktunya
-    berkurangnya pergerakan janin
-    hipertensi dan kejang
-    mual dan muntah yang berlebihan
-    nyeri epigastrium
-    pucat, letih dan lesu
-    berat badan tidak bertambah
Rasional : ibu dapat mengetahui sedini mungkin tentang tanda bahaya dalam kehamilan sehingga jika ditemukan salah satu tanda bahaya kehamilan ibu dapat langsung mengambil keputusan untuk segera meminta pertolongan kepada petugas kesehatan.
Hasil : ibu mengerti dan memahami, serta akan segera menghubungi petugas kesehatan jika terdapat salah satu tanda bahaya tersebut.
8.    Pendokumentasian ( pencatatan dan pelaporan ) kedalam buku registrasi dan buku hamil.
Rasional : sebagai bukti pencatatan dan pelaporan yang dimiliki oleh bidan guna untuk kepentingan klien, bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Hasil : pendokumentasian telah dilakukan.













LEMBAR PENGESAHAN

PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN
ANTENATAL CARE FISIOLOGI
( S O A P )

MENGETAHUI :
PEMBIMBING INSTITUSI


MASWATY MADJID, AM.Keb, SKM, M.Si

MAHASISWA


ZUL HENDRIANI
908312910106.0277

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AVICENNA
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
KENDARI
2012
ASKEB

PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN
ANTENATAL CARE FISIOLOGI
( S O A P )







ZUL HENDRIANI
908312910106.0277


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AVICENNA
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
KENDARI
2012
Raja dan Abunawas

Seorang raja memerintahkan abunawas untuk mencari orang buta sebanyak empat puluh orang, sedangkan kampong yang dimaksudkan ini penduduknya hanya sekitar lima puluh orang lebih, dan tidak ada seorangpun orang buta di kampong itu. Akhirnya Abunawas menemukan ide, dia menggulung daun kelapa sebanyak dua belas gulungan lalu memikulnya dan membawanya keliling kampung, siapapun yang bertanya, “Apa itu Abunawas?” Abunawas menjawab “satu” ada yang bertanya “dua” ada yang bertanya “tiga” ada yang bertanya “empat” ada yang bertanya “lima” ada yang bertanya “enam” ada yang bertanya “tujuh” ada yang bertanya “delapan” ada yang bertanya “sembilan” ada yang bertanya “sepuluh” sampai pada yang ke tiga puluh Sembilan. Setelah Abunawas melewati yang ke tiga puluh Sembilan, ia lewat di hadapan raja, maka bertanyalah raja, “apa itu Abunawas?” Abunawas hanya menjawab, “empat puluh dengan raja” bertanyalah lagi sang raja, “kenapa kamu sebut dengan saya Abunawas?” Abunawas kembali bertanya, “Apa yang saya pikul ini?” jawab sang raja, “itu daun kelapa” Abunawas bertanya lagi, iya, nyata-nyatanya daun kelapa yang saya pikul, kenapa kamu bertanya juga, berartai kamu buta? Jadi empat puluh dengan raja”. Raja mengakui kebutaannya, dia telah dikalahkan Abunawas.







Asal Mula Batu Naga
Menurut legenda bahwa pada suatu saat pulau Muna belum dihuni oleh manusia, pada saat itu pulau ini hanya dihuni oleh berbagai binatang-binatang. Seluruh jenis binatang terdapat di dalamnya baik dari jenis hewan mamabiak, jenis burung sampai pada jenis reptil yang melata dari semua jenis. Sebagai pemimpin dari semua jenis binatang ini adalah seekor naga, sejenis ular yang besar dan sangat ditakuti oleh binatang lainnya pada saat itu.
Pada suatu hari diadakan rapat diantara binatang-binatang tersebut, maka naga sebagai pemimpin memberitahukan kepada mereka bahwa pada suatu hari nanti akan dating manusia yang dapat mengganggu kehidupan kita. Dikatakannya bahwa manusia itu sangat pintar dan berbahaya, mereka nanti akan memburu, memotong, memakan dan memelihara sebagian dari kita. Jadi untuk menghadapi kedatangan manusia tersebut maka sang naga meminta untuk waspada dan mempertahankan diri masing-masing. Disamping itu seluruh binatang diperintahkan untuk pindah dari tempatnya ketempat yang lebih aman. Maka pada suatu hari yang telah ditetapkan sang naga  sebagai pemimpin memerintahakan sebagian anggotanya untuk segera pindah karena manusia akan segera datang. Naga tersebut mengajak binatang-binatang untuk terbangke langit dengan tujuan ke negeri Cina, dan diikuti oleh binatang lainnya. Sebagian binatang ada yang bisa terbang tetapi tidak sampai ke langit maka jadilah mereka burung-burung sedangkan sebagian lain tidak bisa terbang maka jadilah mereka sebagai binatang buruan ataupun binatang peliharaan manusia seperti sapi, kuda, kerbau, kambing, ayam dan lain-lainya.
Adapun naga sebagai pemimpin dari semua binatang pada saat itu berada pada suatu tempat, ketika terbang ke langit meninggalkan kulitnya yang luar, saking besarnya maka kelongsongan yang tak lain kulit luarnya berbentuk seperti goa, kemudian goa ini disebut dengan nama Kontu Naga.
Goa Kontu Naga merupakan sebuah goa yang unik, bagian muara (mulut) goa berbentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih 4 meter. Diameter lingkaran ini makin ke dalam makin mengecil, kalau dilihat secara mendatar akan berbentuk seperti keong dimana satu ujung membesar sedangkan ujung lainnya mengecil sehingga berbentuk kerucut.
TULA-TULANO BHEKA BHE WULAWONO

Nando dhamani wawono nodadimo seghulu bheka robhine norunsae moghaneno ne karuku. Wakutu amaitu bheka robhine inia nando nobhala taghino. Niowa-owano ini nodhulu gholeo dhulu nobhala. Nolente kaawu anano nolangkamo nokala nekapihi nefumaano, tantigho kaawu nodhagani anano. Nefumaano kaawu kadadi-kadadi karubuhi peda, wulawo, manu-manuhi karuku, pata mepahino wutono lumiono nekaelatehano bheka amaitu.
Nobhala kaawu ananoanoa nofekirimu we lalono bhaara nadhumagani tora anano bhahi nakumala naekapihi nefuma we sigaahano rampano gholeo nekundo ini anoa minaho nae ghawa nefuma. O Wulawo nolangkamo noliu te kaelatehano. Pada kaawu anagha nobhotukuimo nakumala naekapihi kafumate kalateha sigaahano, anano narumunsaemowe kalatehano rampano nofekiri kaelatehano maitu netaa. Pada norunsa anano anoa nopesuamo kampo wakutuuno gholeo norondomo, pokantibhahaghoanoa neangkaitalupano kaodohano wanu miehino kampo kapadhudhukino maitu. Kansuru nee rako seghulu maka notendenosuli rampano keono manu maitu notifetingke nekomanuno bheka robhine maitu dohambaemo miehi welo kampo.
Nomaigho nombolaku manu maitu, notikenda nowura ananonomatemo. Pada nofumaa kambolakuno maitu, anoa nokalamo nekakapihi lahae mongkono onano maitu. Ane somongkoe kadadi karubu maka wutono dua somongkoe, tamaka ane kadadi mongkono anano kadadi bhalano maka namosihalaanemo pelandule (papaando) somekalaahie rampano wakutu amaitu dosangke nembali rajando bhe nembalimu dua matorodawe karuku. Bheka mina bhe fetumpu nokapihi mongkono anano. Pokantibhagho dua anoa nowura sasa nando nopokapunda-punda bhe notende. We lalono bheka ainimo mongkono anaku. Bheka amaitu kansuru nefolala  we anano nomate rampano nofindahie ghagheno rusa.
Raja kansuru nofotuduane dobhasigho rusa naando bhe faraluuno. Mina naompona rusa noratomo. Raja noforatoanemo kamaihano bheka nobhiegho kametehano anano rampano o rusa nando netende-tende kofewuntahano alo kansuru nofindahi anano bheka.rusa kansuru nobhalo katendehano rampano manu-manu kadondo nofodangku-dangku nunsunonepughuno sau noghosa kansuru sooku nando musu maino. Ane peda anagha soano rusa koahalano tamaka manu-manu kadondo maitu ambano raja. Pada kaawu aitu notudumo rayat damoghawaane. Mina naompona manu-manu kadondo nomaimu nopoghawagho raja. Raja kansuru nopogau we manu-manu kadondo katibhasihano rampano naando bheka maino mefolalaghoono nofa anoa nofodangk-dangkugho nunsuno bhe kaghosa kofewuntahano alo. Rampano katendehano rusa natipandehaoa bhe nofindahimo anano bheka sampe no mate.
Manu-manu kadondo nobhalo karabuhano peda maitu rampano manu-manu ndoa nopodhala-dhala bhe panando te melangkehano bhe debhaju kapute. Sampe nofekiri we lalono kira-kira naando kadhadhia potemba-tembano bhahi nando karia welo kampo. Raja nobhotukiomo manu-manu kadondo mina nahumala. Pada aitu notudumo ndao nakumala napogawaane bhe nofeenagho sabhabuno katibhasihano ne raja rampano kaomponano ini anoa mina natibhasi nopoghawa bhe raja.
 Raja nobhalo noafa o ndao nokanta-kantagho te kabhawo bhe depakea bhadhu kaputesabhabunomo anano bheka nomate nofindahie rusa. Ndao kansuru nopogau kanta-ntahano te kabhawo nepake bhadhu kapute rampano bhiku noghonto fointono lambuno nofokaki-kiie. Anoa nofekirie kira-kira nando karia welo kampo. Raja nobhotukiomo ndao mina nahumala. Bhiku dobhasiemu dua, norato kaawu bhiku raja kansuru noforatoe sabhabu katibhasihano, noafa noghontogho fointono nofokakii-kiie. Bhiku nobhalo rampano bungka nolili noowa kaloghano kokampanano kofewuntahano oalo, nofekirie anoa kira-kira aitu bungka dotuduemo nengkora bhe rusa, kadondo, ndao bhe bheka, maka o raja notudu raeyatino dabhasi bungka. Bungka nomai maka netula-tula anoa mina namata kalodono katalati hanomo norato, rampano morondo nando karia wewuntano kampo. Raja nofenamo karia hae numandoono  morondo wewuntano kampo, nobisara bungka notendagho noowa bhe kaloghano kokampono. We kafewuntahano oalo, sampe-sampe bhiku noghonto bhe fointono lambuno, bungka nobhalo katendehano kofewuntahano oalo rampano wulawo notende kofewuntahano oalo dua. Pada anagha anoa nofekiri hadae naando karia welo kampo rampano nandoho aitu wulawo norabu peda amaitu.
Raja kansuru noparintangida tora dobhasigho wulawo dapoangka-angkamo bhe andoa namai namefise naini. Katuduno raja sansahino wulawo bhe namoratoane anoa notudue napowisegho diki raja rampano bheka nobhiegho nomate anano nofindahie runsa morondo. Kabhasi anagha nobhaloe wulawo andoa dotehi sepaliha bhe bheka rampano anoa nofekamate bhe nofumaa wulawo rampano pada nofemataane awando nando dhamani. Wulawo noposarunau damoratonegho kaawu neraja kaotehihano maitu.
Katuduno raja maitu nomangakuemo kasalamalino rampano anoa narumato bheka narumabu peda amaitu anoa namokamate dua raja. Wulawo kansuru ghuluhano bheka dahumukumue ane wutono namatemo. Pobhalondo katuduno raja bhe wulawo nofumaa wakutu nompona sampe raja nomamara. Raja notudu sigahano sobhasino wulawo. Saratono katuduno bughou nagha kansuru nomamara noafa andoa domponagho sepaliha. Wulawo nobhalo katuduno raja maitu nomponamo nointagie tamaka anoa notehi sepaliha napoghawa bhe bheka. Katuduno bughou nagha nopogau koemo notehi madaho anoa sodhumaganie.
Nofetingke kamangakuno katuduno raja maitu wulawo nandoho notanda nohunda napowise bhe raja. Wulawo nodhaganie kansuru podiuno wulawo bhaita dorakoe. Katuduno maitu noforatomu raja namorato wulawo koemo notehi. O bheka nopanggigi wangkano nowura nomai wulawo bhe nopogau welalono en pae bhe raja fotuno wulawo amaitu madamo asumiae, ando wurahano norombuhi.nofetingke pogauno katuduno raja maitu nofuta bhe nofeena we wulawo sabhabuno sabhabuno notende bhe nekeo-keo wekafewuntahano oalo notende bhe bungka noowa bhe kaloghano kokampananobhiku noghonto bhe fointono lambuno, ndao dodhala te wawono melangkehano de bhadhu kapute, rampano manu- manu kadondo dofoni te wawono sau maka dofodangku- dangku nunsuno nepughuno sau maitu. Bhe kaghosano suarano kafulei hanomo rusa sampe nofindahi anano bheka kamatehanomo anano bheka. Sabhabunomo kamaihano nobhie bheka.
Wulawo nodoli bhe nokatehi-tehi ne bheka. Ane bhe patudhuno modaino bharangka bheka aitu dhangani kaetaamu, maka anoa damonkoemu damokarimba. Pada aitu bheka dodhanganiemo bhe dogheleane nakodiu. Ane nakodiu damalu-malue. Bheka noangkafida bhe nomamara, tamaka notahae. Pada aitu bheka nofolimbamo masalano marana ne bhontu-bhontu rampano katehino notende nofulei bhe nopodea maka nofetumpu sebantara. O raja notandamu nuwasunsue bhe nopogau ambano koe motehi. Rajamu sopowiseanea wulawo nofekiri madahomo nabisara sakotughuno mahingga nae tango resiko bhalano. Wulawo nosangke fotuno bhe nopogau ambano karabuhano peda maitu, rampano nowura bheka notendegho manu seghulu. Morabu peda maitu nosiwanu-wanu ghoo kadadi  kafewuntahano oalo wekalodono dorakogho bheka andoho membolakuno manu we liwu amaitu. Nofetingke amaitu bheka nopotubhari nosampu fotuno bhe nomarampute hulano bhe nopogau we lalono rabunomo dua maitu sabhabunomo kamatehano anano.
Pad kaawu nofetingke kosibhari-bharihae pogauno maighoono ne wulawo, raja nelengkamo pogau nekosibhari-bhari hando rumatono notantumo pandehanemu sabhabu kamatehano anano bheka. O bheka notende nomoisa we kafewuntahano oalo noowa manu kambolakuno kansuru dohambae miehi weloliwu. Rampano aitu katendehanomo wulawo, bungka noowa kaloghano, bhiku noghonto fonintono lambuno, pada aitu ndao dodhagate kabhawo debhadhu kapute, nofodangku-dangku nunsuno ne pughuno sau. Katandahanomo notende rusa bhadhi nifahamiemo sabhabuno kamatehano anano nomaigho dua newutono. Pogau amaitu nobhaloe bheka ambano kafokatokahino wulawo maitu mina nakumotughu. Wulawo notubhari tora alo amaitu nopongke bhe karaka dowurae rabuno bheka mitua. Raja notududa tora dasumumpu karaka, norato kaawu karaka notantumo dua daano kapoguhano wulawo. Pada kaawu aitu bheka notalomo. Raja nobhotukidamo bheka tabea datumorongkue we pandano wite bhe dadumapoe tewawono.
Bheka nofeena noafa tabeadatumorongku kanau gho ingka anaku wutoku mateno. Raja nobhalo nefelala kakaghondofau lahae merabuno sabhabu kamatehano miina naepandehao imano bhahi amino anoa tabea datumorongkue. Katompano kaawu dofopesuaemu we katorongku, welo lalono alumimba kaawu, abholosimu rabuno wulawo maitu.
Nokapo kaawu tolu taghu bheka noriamo welo katorongku akhirino dofolimbaemo. O wulawo nowura bheka bhaihini hadae sometaahano andoa dae salo maafu ne bheka, maka wulawo sigaahano dokiido, rampano notanda we awa ntolundo wulawo mina dae rabu-rabu peda ainia. Sigaahano dopogau tantumo anoa namandemo rampano padamo notorongkue raja. Lapasi kaawu aitu andoa dokalamo desalo maafu ne bheka. Dorato kaawu te wiseno fonintono bheka andoa dofeabhamo. Peda hae itua bheka lengka kasami fonintomu, insaidi tapointara lima. Bheka nosangke fotuno bhe nopogau we lalono noafa tora wulawo inia domaigho dofowanu kanau so dapointaragho lima, wurahano andoa ini dofo panda ente. Andoa pada dofopesua kanau we katorongku, domain tora dopo intara lima.
Bheka nolengkamo fointono maka notududa damesua kosebharihando. Nosikaghontoha fonintono maka norako wulawo maitu seghulu-seghulu. Nando so mewano mosalamatino wutono tamaka nobhari tirakono bhe tipongkono.
Pedamo kaawu aini tula- tulano wulawo bhe bheka sampe dhamani aini mina nanumando dapomasigho.

















KISAH KUCING DAN TIKUS

    Dahulu kala, hiduplah seekor kucing betina yang ditinggalakan ole pejantannya di pinggir sebuah hutan. Saat itu si kucing betina sedang hamil tua. Kandungan kian hari kian membesar. Setelah anaknya lahir ia jarang pergi mencari makan. Kerjanya hanya menjaga anaknya. Yang menjadi makanannya adalah binatang-binatang kecil, seperti tikus dan burung-burung kecil yang tanpa sengaja singgah di tempat kucing tinggal.
Setelah anaknya membesar, ia berpikir dalam hatinya, apakah ia harus menjaga anaknya terus atau pergi mencari makan ketempat lain. Apalagi sudah beberapa hari belakangan ini, ia belum juga mendapat makanan. Tikus sudah amat jarang lewat di tempatnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari makan di tempat lain. Anaknya disimpan di tempat yang menurut perkiraannya cukup aman.
Ia masuk kampung ketika matahari sudah mulai gelap. Kebetulan a melewati kandang ayam milikorang kampong. Ia langsung menangkap seekor. Lalu laksana kilat, ia berlari pulang karena teriakan-teriakan ayam di kandang membangunkan pemiliknya.
Kucing betinapun diburu oleh orang-orang kampong.
Sekembalinya dari mencuri ayam, betapa kagetnya ia melihat anaknya sudah mati. Setelah hasil curiannyaitu dimakan, ia lalu pergi mencari tahusiapa yang telah membunuh anaknya. Bila yang membunuhnya binatang kecil, ia sendiri yang akan ganti membunuhnya. Tetapi, kalau bintang yang membunuh anaknya bertubuh besar ia akan menyerahakan kepada si pelanduk untuk mengadilinya. Waktu itu pelanduk terpilih menjadi raja mereka., sekaligus sebagai hakim pengadilan dalam hutan.
Si kucing tidak henti-hentinya mencari pembunuh anaknya. Akhirnya ia melapor kepada sang pelanduk kalau anaknya mati karena terinjak oleh kaki rusa.
Sang raja memerintahakan agar rusa segera di panggil. Tidak lama kemudian rusa pun datang menghadap. Kepada rusa, sang raja menyampaikan pengaduan kucing perihal kematian anaknya.
” kau dikatakan berlari-lari ditengah malam sehingga menginjak anak kucing sampai mati.”
“ Maaf tuan raja. Saya berlari-lari karena burung pelatuk membunyikan mulutnya pada sebatang kayu dengan begitu kerasnya sehingga saya menduga ada musuh yang datang menyerang.”
“Kalau memang demikian, bukan rusa yang bersalah, tetapi burung pelatuk.”
Oleh karena itu, ia menyuruh pelatuk untuk menghadap. Tidak lama burung pelatukpun datang menghadap.
“Kau kupanggil karena kucing datng melapor. Mengapa kau membunyikan mulutmu pada sebatang kayudengan begitu kerasnya di tengah malam sehingga menyebabkan rusa berlari tidak karuan dan menginjak anak kucing hingga mati ?”
Maafkan saya tuanku. Saya melakukan hal itu karena burung bangau dengan memakai baju putih berjejer siap siaga dengan panahnya di atas dataran tinggi. Terpikir dalam pikiran saya, mungkin akan terjadi perang atau mungkin ada kerusuhan yang terjadi di kampung.”
Raja memutusakan bahwa burung pelatuk tidak bersalah. Kemudian, ia menyuruh burung bangau menghadap kepadanya.
Burung bangau heran mengapa dia di panggil oleh raja. Selama ini, ia tidak pernah di panggil oleh raja untuk menghadap.
“Mengapa kau sampai siap siaga di atas dataran tinggi dengan memakai baju putih ? Kau tahu akibatnya ?! Anak kucing mati terinjak rusa!”
Tuanku, mohon maaf. Saya siaga da atas dataran tinggi dengan memakai baju warna putih karena siput menutup erat pintu rumahnya. Say menduga ada kerusuhan dalam kampung.”
Raja pun memutuskan bangau tidak bersalah. Siput lalu dipanggil menghadap.
“Mengapa kau harus menutup pintu rumahmu?”
“Begini tuanku raja. Waktu itu, si kepiting lari membawa tombak bercabangnya pada tengah malam sehingga saya berkesimpulan pasti ada kerusuhan  terjadi. Baru kali ini terjadi demikian, Tuanku.”
Setelah itu, siput disuruhnya duduk berjejer bersama rusa, burung pelatuk, burung bangau, dan kucing. Raja menyuruh rakyatnya agar memanggil si kepiting.
“Mohon maaf, tuanku, saya kurang tidur sehingga agak terlambat datang. Tadi malam ada kerusuhan yang terjadi di tengah kampong.”
 “Kerusuhan apa? Apa yang terjadi tadi malam di tengah kampung sehingga kepiting lari membawa ombak bercabangnya, di tengah malam sampai-sampai siput menutup rapat pintu rumahnya.”
Saya membawa tombak bercabang itu di tengah malam karena saya menduga ada kerusuhan di dalam kampong. Memang, baru kali ini tikus berbuat demikain,” kata kepiting.
Raja langsung memerintahkan lagi untuk memanggil tikus. Utusan sang raja segera memanggil tikus. Utusan sang raja segera memanggil sang tikus dan memberitahukan bahwa ia disuruh mengadap oleh raja. Kucing merasa keberatan atas kematian anaknya yang diinjak oleh rusa tadi malam.
Panggilan itu dijawab oleh tikus kalau mereka takut sekali kepada si kucing. Ia selalu mebunuh dan memakan tikus dimana saja dan kapan saja, sesuai dengan sumpah neneknya dulutikus hanya berharap agar disampaikan saja kepada  sang raja mengenai ketakutannya itu.
Utusan raja mengatakan kalau keselamtannya akan dijamin karena kalau sampai si kucing berbuat demikian, ia akan dibunuh pula oleh raja.
“Apalah artinya kucing dihukum kalau dirinya sudah akan mati.”
Pertengkaran antara utusan raja dan tikus tak kunjung berakhir, terasa lama. Raja sampai marah-marah tak sabar menunggu.
Tikus merasa takut sekali berhadapan dengan kucing. Maka, utusan yang kedua mengatakan, “ Jangan kau takut. Aku akan melindungimu.”
Mendengar jaminan dari utusan ke dua itu tikus mau menghadap raja. Tikus selalu mengawasi gerak-gerik kucing, jangan-jangan ia diterkam. Utusan itu member tahu kepada raja agar meyakinkan si tikus agar tak usah takut.
Kucing menggeruti giginya melihat kedatangan si tikus. Katanya dalam hati, “Huh, andai tidak ada raja tentu kepala tikus itu sudah kuterkam. Mereka kelihatannya gemuk-gemuk.”
Mendengar perkataan utusannya itu sang raja tertawa.
Hai, tikus mengapa kau berlari mencicil-cicil ditengah malam sehingga menyebabkan kepiting lari dengan membawa tombak bercabang, siput menutup pintu rumahnya, bangau berbaris siaga di atas dataran tinggi dengan pakaian putihnya, burung pelatuk naik di atas pohon lalu membunyikan mulutnya pada pohon itu, dengan suara keras sehingga rusa-rusa lari pontang-panting dan akhirnya menginjak mnyebabkan kematian anak kucing. Karena itulah kucing mengadukan hal itu.”
Tikus menoleh dengan perasaantakut kepada kucing. Raja maklum. Ia segera memerintahakan agar kucing dijaga ketat. Kalau memang ada niat jahat kepada tikus, ia akan membunuh dengan segera. Akhirnya kucing dijga ketat dan dilrang bergerak. Kalau ia bergerak maka ia akan dipalu. Kucung pun menunduk dengan menahan amarah yang sudah memuncak naik.
Tikus mengemukakan masalahnya dengan suara yang terputus-putus karena takutnya.
“Sa.. sa.. saya lari sambil mencicit-cicit….” Ia diam sejenak.
Raja mulai mendesak, “ Jangan takut aku akan menghadapinya.”
Tikus berpikir, “Lebih baik aku akan mengatakan dengan terus terang, walaupun harus menanggung resiko yang besar.” Ialu mengangkat kepalanya.
“Aku berbuat demikian, lari ditengah malam sambil mencicit-cicit karena melihat kucing melarikan seekor ayam. Aku melakukan itu agar semua binatang bangun di tengah malam dari tidurnya, dan harapanku menangkap kucing yang sedang mencuri ayam di kampung itu.”
Mendengar itu kucing tambah menundukan kepala dengan muka termat pucat. Hatinya berkata, “Perbuatanku juga yang menyebabkan kematian anakku.”
Setelah mendengar semua keterangan si tikus, raja berbicara, “Hadirin tntu telah mengetahui sebab musabab kematian anak si kucing. Si kucing ternyata lari sendiri ditengah malam membawa ayam curian dan telah diburuoleh orang-orang kampong. Karena itu tikus lai mencicit-cicit, kepiting lari membawa tombak, siput menutup rapat pintu rumahnya, menyusul si bangau siap siaga di atas bukit dengan baju warna putihnya, burung peletuk membunyikan mulutnya pada pohon dan terakhir si rusa lari dan menginjak anak si kucing. Dengan demikian, “apakah sudah dapat dimengerti bahwa yang menyebabkan kematian anakmu itu adalah dirimu sendiri?!”
Si kucing membantah keras keterangan si tikus. “Tidak benar itu. Tidak benar.”
Tikus menambah kalau malam itu ia bersama si kodok melihat perbuatan si kucing.
Kata kodok yang dating menghadap apa yang dikatakan oleh tikus itu semua benar. Akhirnya kucing menyerah.
Raja memutuskan: kucing harus dihukum di ruang bawah tanah.
“Mengapa aku harus dihukum? Bukankah anakku sendiri yang mati?”
“Anakmu butuh perlindungan. Siapapun yang menyebabkan kematiannya, tidak memandang dia ibu atau ayahnya, harus dihukum.” 
Akhirnya si kucing dimasukkan ke dalam penjara. Dalam hatinya, setelah keluar dari penjara, ia akan membalas perbuatan si tikus.
Tiga tahun kucing meringkus dalam penjara. Akhirnya ia dibebaskan. Tikus melihat kucing keluar dari penjara. Ia menemui teman-temannya.
“Sebaiknya kita minta maaf kepada kucing.”
Tikus yang lain tak menolaknya.
“Sejak zaman nenek moyang dulu, tikus pernah melakukan demikian.”
Yang lain mengatakan tentu akan tobat karena telah di hokum oleh raja. Akhirnya mereka pergi memnta maaf kepada kucing. Mereka tiba di depan pintu si kucing, lalu mereka beri salam.
“Wahai kucing, bukakan pintumu. Kami mau berjabat tangan.”
Kucing mengangkat kepalanya dalam hatinya berbisik, “ Mengapa tikus dating membangunkanku untuk berjabat tangan. Rupanya mereka memandang anteng. Mereka sudah memasukanku dalam penjara. Sekarang dating untuk berjabat tangan. Enek saja!”
Kucing lalu membuka pintu. Tamunya dipersilakan masuk semua. Tiba-tiba tanpa diduga para tikus, pintu rumah ditutup kembali oleh kucing. Braak! Si kucing kemudian menangkaptikus itu satu persatu. Ada yang sempat menyelamtkan diri tetapi banyak yang tertangkap dan terbunuh.
Itulah kiranya, kucing dan tikus tidak pernah berdamai hingga saat ini.