Dua Orang anak Yatim
Pada suatu hari, kedua anak yatim ini dijanji oleh ibu mereka untuk rekreasi di sebuah tempat. Kedua anak yatim tersebut dijanji karena sikap mereka yang kasar pada ayah tiri mereka, tempat yang mereka tuju untuk rekreasi itu banyak dihuni oleh binatang buas. Tujuan kedua orang tua dalam berekreasi nanti adalah untuk membuang kedua anak yatim tersebut.
Berangkatlah dan mereka tiba di tempat rekreasi,kedua anak yatim itu disuruh mandi, setelah mandi mereka makan, dan keduanya ditidurkan, lalu ibu dan ayah tiri pulang meninggalkan kedua anak mereka. Tidak lama kemudian kedua anak yatim itu bangun dari tidur mereka. Keduanya mencari-cari kedua orang tua mereka, hingga hari mulai gelap, kedua anak yatim itu saling mengajak untuk pulang. Tetapi kearah mana mereka harus pergi? Tidak ada jalan yang bisa mereka lalui, sebab sebelumnya mereka berangakat dengan memakai perahu. Kedua anak yatim berjalan mendakisebuah gunung. Dalam perjalanan mendaki gunung, mereka melewati hutan lebat. Tiba-tiba mereka melihat titik cahaya di atas pohon besar, mereka heran, “Ada apa? Terang sekali” mereka medekati pohon besar itu sambil menatap pada titik cahaya, diperhatikannya sumber cahaya itu ternyata seekor lipan raksasa dengan mutiara di kepalanya. Tidak lama kemudian, mutiara itu jatuh di hadapan mereka dan langsung merebutnya dan menyimpannya dalm Al-Qur’an kecil yang mereka bawa-bawa sampai mutiara itu tidak mengeluarkan cahaya. Semantara lipan raksasa mengamuk di atas pohon. Kedua anak yatim segera meninggalkan tempat itu.
Hari telah pagi, sampailah kedua anak yatim itu pada suatu tebing, mereka saling menanyai, “Kemana kita harus pergi?” lalu anak laki-laki bertanya pada anak perempuannya, “Bisakah kamu lompat” adiknya menjawab, “Ya, saya bisa lompat” anak laki-laki bertanya lagi, “Siapayang haris lebih dulu lompat” jawab anak perempuan, “Silahkan kamu lebih dulu!” Anak laki-laki menjawab, “Kamu harus lebih dulu” jawab anak perempuan lagi, “kamu yang harus lebih dulu, karena kalau kamu lebih dulu, kamu bisa tunggu saya di bawah, kamu bisa menangkapku.” Akhirnaya Si anak laki-laki melompat lebih dulu dan dia selamat, sebab Qur’an kecil yang mereka bawa-bawa dipegangnya. Sesampai di bawah, si anak laki-laki menyuruh adiknya, “Lompatlah, saya akan menangkapmu! Lompatlah, saya akan mengkapmu!” Lompatlah adiknya, ternyata si anak laki-laki tidak dapat menangkap adiknya, akhirnya anak perempuan meninggal dan menguburkannya di tempat itu pula. Setelah Si anak laki-laki menguburkan adiknya, dia melihat boci berlayar. Si anak memanggil boci tersebut sambil melambaikan tangannya. Saat Si anak memanggil-manggil, para penumpang boci melihatnya da diarahkanlah boci menuju kea rah sang anak, setelah mendekat sang anak bertanya, “Bolehkah saya menumpang, meskipun sebagai tukang masak?” sang anak diizinkan oleh pemilik boci untuk menumpang, lalu menumpanglah dia, mutiara miliknya, dia sembunyikan di sekitar tungku.
Setelah tiba pada tujuan, boci mendarat dan penumpangnya naik ke darat, begitu pula dengan sang anak. Mutiara yang dia sembunyikan disimpannya kembali dalam Al-Qur’An kecilnya. Mereka saling berpencar. Si anak yatim pergi lagi sendiri, dalam perjalanan, dia mengeluarkan mutiaranya dan mempermainkannya, membuangnya ke atas lalu menangkapnya lagi. Pada saat mempermainkan mutiaranya itu, cahaya mutiara kembali memancar di sekitar jalan. Tidak lama kemudian lewatlah seorang putrid dengan mengendari dokar, anak sang raja, sang putrid melihat sang anak yatim yang sedang mempermainkan mutiaranya, putrid ingin memiliki mutiara itu, namun anak yatim itu tidak ingin memberikannya, akhirnaya sesampainya di rumah, putri menyuruh orang tuanya untuk mengambilkan mutiara itu. Karena kedua orang tuanya sangat menyayangi putrinya, maka mereka pergi menemui laki-laki yatim itu untuk membeli mutiaranya. Lagi-lagi si laki-laki yatim ini tidak mau maka sang raja menawari si laki-laki yatim, “Asal kamu mau memberikan mutiara itu saya akan menikahakanmu denagn putriku, “Si anak laki-laki yatim mengiyakannya. Dipanggilah laki-laki yatim itu untuk datang kerumah perempuan.
Tibalah waktu pernikahan, diundanglah seluruh warga kampung, termasuk warga kampung di sekitar mereka, juga ibu dan ayah tiri si laki-laki. Setelah hari H pernikahan, berdatanganlah para undangan. Ibu dan ayah tiri si yatim mengambil tempat paling depan, sementara anak mereka bersanding di pelaminan. Dalam proses pesta bejalan, si anak yatim memperhatikan terus ibunyadan ayah tirinya, begitu juga sebaliknya mereka memperhatikan laki-laki yang bersanding itu. Tertekuklah hati kedua orang tua si laki-laki itu, “Sepertinya , dia adalah anak saya yang saya buang.” Ketika para undangan saling berjabat tangan, ke dua orang tua si anak yatim paling terakhir. Mereka berdiri menyalami pengantin agak lama dan saling menatap. Lama-kelamaan mereka saling memeluk sambil menangis, akhirnya kedua orang tua si laki-laki meminta maaf pada anaknya begitu juga anaknya kembali meminta maaf pada ke dua orang tuanya.
SELESAI
AKHIRNYA CUKUP JUGA 15 TULISAN......
BalasHapus