Jumat, 01 Juni 2012

telepon
   

    Pada suatu malam yang dingin, ketika aku baru saja membaringkan badanku di tempat tidur aku mendebgar dering telepon. Dengan malas aku bangkit dan mengambil telepon.
“Di sini Ati Munyi,”kataku.
“Nona Ati Munyi?” Tanya suara dalam telepon itu.
“Ya, saya sendiri,” balasku.
“Syukur, kalau begitu.”
“Ada apa?” Tanyaku.
“Oh, tidak apa-apa. Sekedar omong-omong.”
“Sekedar omong-omong? Di tengah malam begini?”
“Ya, saudari keberatan?”
“Keberatan sih tidak. Tapi saya pikir saudara terlalu sibuk barangkali, waktu untuk ngomong-ngomong saja terpaksa malam begini!”
“Bukan itu soalnya,”balas surat,”Saya kebetulan lagi piket di kantor dan teman-teman sudah pada tidur.”
“O,” jawabku.”tapi mengapa saya yang saudara telepon?”
“Hanya kebetulan karena saya mengambil sembarangan nomor. Kalau tadi saya kebetulan mengambil kantor yang tidak ada penghuninya, mungkin saj tidak jadi ngomong-ngomong begini. Atau mungkin saya ambil nomor yang lain, yang mungkin penghuninya orang Cina,” katanya sambil tertawa.
    Mendengar ini tahu-tahu saja aku juga ketawa.
    Begitulah, omong-omong yang di luar rencana itu akhirnya berlangsung selama dua jam, dengan pokok-pokok persoalan yang dibicarakan oleh masing-masing kami bermacam-macam pula. Tapi anehnya, ketika kami menghentika pembicaraan, kami tak pernah saling bertanya apakah pekerjaan kami sehari-hari. Aku salah tidak menanyakan usianya apakah ia seorang anak, ataukah hanya seorang penjaga malam.
    Seminggu kemudian kami bertelepon lagi dan bebicara berbagai soal. Tapi satu hal yang membuat aku tertarik pada  pembicaraan kami malam itu adalah, pertanyaan yang kuangggap cukup aneh. Apakah betul selalu dosa, kalau kita menyelamatkan orang yang jelas-jelas melakukan dosa kepada manusia dan Tuhan?
    Pertanyaan itu tidak segera kujawab, tapi malah sebaliknya aku bertanya dosa bagaimanakah yang dimaksudkan itu. Dia lalu menceritakan sebuah cerita yang menarik tentang seorang temannya. seorang temannya yang akrab telah melakukan pembunuhan karena suatu perselisihan yang sebenarnya masih dapat diselesaikan secara damai.
    Temannya itutidak lain adalah Mathias, seorang bandit yang cukup terkenal di kota kami yang akhirnya menjadi buron untuk beberapa lama. Mathias minta perlindungan temannya untuk menyembunyikan dirinya di sana untuk beberapa lama. Segalanya berjalan dengan baik sampai akhirnya Mathias dapat lari ke daerah lain. Begitulah, akhirnya Mathias dapat bebas selama bertahun-tahun, tapi celakanya dengan kejahatan-kejahatan lain yang terus menerus diperbuatnya.
    Timbulnya suatu peristiwa yang baru dilakukan Mathias menyebabkan temanku bertelepon itu menerima suatu pukulan yang cukup menggganggu ketentraman jiwanya. Seorang laki-laki yang tidak bersalah telah dibunuh oleh Mathias karena iseng. Karena iseng yang membuat kawanku mendapat gangguan jiwa untuk beberapa lama.
    Begitulah Mathias melakukan hal-hal yang sama, yaitu pembunuhan-pembunuhan baru dengan tangan dingin dan tak pernah tertangakap. Tapi anehnya, setiap kali ia melakukan pembunuhan ia tetap memberitahukan pada temanku bertelepon ini, seakan-akan hal itu suatu laporan kepada atasan.
    Hal inilah yang mengganggu ketentraman jiwanya, jiwa kawanku itu, yang akhirnya mencapai puncaknya sendiri karena ia terlalu banyak tahu tentang dosa-dosa Mathias. Setiap malam kawanku itu menanti kedatangan Mathias, karena ia tahu bahwa Mathias selalu melakukan pembunuhan pada malam hari.
    Sampailah akhirnya peristiwa itu. Mathias dating pada suatu malam, ketika hujan rintik-rintik dan temanku itu menantinya dengan penuh ketabahan. Suatu hal yang tidak diduga Mathias adalah ketika temanku itu menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk dia bunuh. Suatu hal yang mustahil, begitu katamu, bukan? Tetapi begitulah kenyataanya. Dan menerima hal yang tidak terduga ini, Mathias terkejut, gugup, malu, dan kehilangan harga diri. Mathias lalu bersujud di kaki temanku itu. Menangis dan meminta ampun dan rela untuk diperbuat yang bagaimana pun juga oleh temanku bertelepon itu.
    Tetapi temanku itu masih juga member maaf dan mengizinkan pergi tanpa memberitahukannya pada siapapun, termaksud pada anak istrinya. Begitulah akhirnya Mathias pergi entah kemana dan tidak ada kabar-kabarnya lagi.
    “Apakah aku salah karena memaafkan Mathias?” tanyanya lagi di telepon.
    Mendengar itu aku terdiam dan baru kemudian aku tanyakan. “apakah surat-surat Mathias pernah datatang lagi.”
    “Tidak.”
    “kemungkinan ia sudah berubah,” kataku.
    “Mungkin saja, tapi mungkin pula ia malu untuk menceritakan kejahatan-kejahatannya yang baru kepadaku.”
    Malam itu aku tidak memberika jawaban apa-apa atas pertanyaanya. Seminggu kemudian ia menelponku lagi dan kembali bertanya soal yang itu juga.
    “Apakah aku salah, karena menyelamatkan Mathias?”
    “Aku bukan ahli hokum, bukan ahli agama dan bukan ahli jiwa,” kataku membalas.
    “Aku menanyaimu sebagai temanku,” jawabnya lagi.
    “Baikah aku menjawab. Tindakanmu yang pertama, menyelamatka itu memang salah. Sebab oleh lindunganmu itu maka ia membunuh beberapa orang yang tak bersalah dank au sama sekali tidak melaporkannya kepada yang berwajib. Tapi tindaknmu yang kedua; kau benar. Justru karena itu kesalahan dan kebaikan yang sudah kau perbuat sudah seimbang. Atau dengan kata lain, kau tidak pernah membuat dosa dalam persoalan temanmu Mathias.
    “terima kasih,” katanya singkat. “O, ya, satu hal lagi perlu kuberitahukan Mathias pernah menyatakan keyakinannya padaku bahwa manusia pada suatu saat dapt menjadi robot yang tidak berharga apa-apa, apakah itu suatu pikiran yang jahat?” tanyanya.”Tidak” jawabku. “itu adalah pikiran yang baik dari seorang penjahat”.
    “Terima kasih,” katanya lagi, “Nanti jika saya bertemu Mathias, akan saya sampaikan hal itu kepadanya.”
    “Terima kasih,” balasku. Setelah masing-masing mengucapakan selamat malam akupun meletakan pesawat telepon.
    Suatu hal yang benar-benar kuraskan malam itu ialah, aku terharu. Seorang teman yang tidak kukenal sama sekali telah mengadukan masalahnya kepadaku. Suatu saat manusia memang bisa jadi saudara yang akrab sekali antara sesamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar